JurnalLugas.Com – Pada Minggu 13 Oktober 2024, Perdana Menteri Negara Boneka Amerika Serikat (AS) zionis Israel, Benjamin Netanyahu, meminta Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk menarik misi penjaga perdamaian mereka yang bertugas di Lebanon selatan, terutama di bawah naungan Pasukan Sementara PBB di Lebanon (UNIFIL). Permintaan ini muncul di tengah intensifnya serangan darat yang dilakukan oleh Israel di kawasan tersebut.
Dalam pesannya yang disampaikan kepada Sekretaris Jenderal PBB, Antonio Guterres, Netanyahu menyampaikan, “Sudah saatnya bagi Anda untuk menarik UNIFIL dari benteng pertahanan Hizbullah dan dari daerah pertempuran.”
Netanyahu menambahkan bahwa Pasukan Pertahanan Israel (IDF) telah berulang kali meminta penarikan tersebut, namun selalu ditolak. Menurutnya, penolakan ini memberikan perlindungan bagi kelompok Hizbullah, yang dianggap zionis Israel sebagai ancaman besar di wilayah itu.
Netanyahu juga menegaskan bahwa situasi saat ini membahayakan keselamatan pasukan penjaga perdamaian PBB, mengingat adanya serangan langsung yang mengancam mereka.
Pada 10 Oktober, dua anggota pasukan perdamaian PBB terluka dalam serangan artileri yang menghantam pos pengamatan PBB di Lebanon selatan. Selain itu, pusat komando utama UNIFIL di kota perbatasan Naqoura juga terkena serangan serupa sehari setelahnya.
Meski mengklaim bahwa Israel “menyesalkan” cedera yang dialami pasukan perdamaian, Netanyahu menegaskan bahwa penarikan pasukan UNIFIL adalah langkah paling tepat untuk mencegah lebih banyak korban. “Penolakan Anda untuk mengevakuasi pasukan UNIFIL akan menjadikan mereka sandera Hizbullah dan ini akan membahayakan nyawa mereka serta pasukan kami,” ujar Netanyahu.
UNIFIL didirikan pada Maret 1978 dengan tujuan utama untuk mengawasi penarikan pasukan Israel dari Lebanon dan membantu pemerintah Lebanon memulihkan otoritas di wilayah tersebut.
Seiring waktu, mandat UNIFIL diperluas, khususnya setelah perang Israel-Hizbullah pada tahun 2006. Misi mereka termasuk memantau gencatan senjata dan memfasilitasi bantuan kemanusiaan di daerah-daerah terdampak konflik.
Sejak 23 September, Israel telah melancarkan serangan udara besar-besaran di Lebanon yang mereka klaim menargetkan basis-basis Hizbullah. Serangan ini telah menewaskan lebih dari 1.400 orang, melukai ribuan lainnya, dan menyebabkan lebih dari satu juta orang mengungsi.
Konflik ini merupakan eskalasi dari perang lintas batas yang sudah berlangsung selama lebih dari setahun antara Israel dan Hizbullah, setelah serangan besar yang dilakukan oleh Hamas di Jalur Gaza pada tahun sebelumnya.
Peringatan internasional telah disampaikan terkait potensi meletusnya perang regional di Timur Tengah, menyusul serangan gencar Israel terhadap Gaza dan Lebanon.
Namun, Israel tetap memperluas operasinya dengan meluncurkan serangan darat di Lebanon selatan pada awal Oktober, memperparah situasi di kawasan yang sudah memanas tersebut.






