JurnalLugas.Com – Elon Musk kembali mencatatkan kekayaan lebih dari US$300 miliar, tonggak sejarah yang ia raih berkat lonjakan harga saham Tesla Inc. Kenaikan ini juga dipengaruhi oleh ekspektasi kuat bahwa hubungannya dengan presiden terpilih Amerika Serikat, Donald Trump, akan memperkuat posisi bisnisnya.
Lonjakan Saham Tesla dan Peningkatan Kekayaan Musk
Dalam beberapa minggu terakhir, saham Tesla melonjak hingga 28% sejak penutupan pada 5 November 2024, mengakibatkan peningkatan kekayaan Musk sebesar US$50 miliar atau sekitar Rp4.910 triliun. Musk menjadi satu-satunya individu yang berhasil mencapai angka kekayaan sebesar ini, meskipun ia masih perlu upaya untuk menyamai rekor tertingginya pada tahun 2021 yang mencapai US$340,4 miliar.
Dukungan Trump untuk Bisnis Musk: Tesla dan SpaceX
Trump secara terang-terangan mengemukakan kebijakan yang akan berdampak positif pada bisnis Musk. Presiden terpilih ini menyatakan bahwa ia mungkin akan mempertimbangkan kembali kebijakan yang dapat memperlambat transisi ke kendaraan listrik, sebagai bentuk dukungannya kepada pendiri Tesla tersebut. Selain itu, Trump juga menyuarakan dukungannya terhadap SpaceX, yang menyumbang hingga US$82 miliar terhadap total kekayaan Musk. Trump bahkan sempat mengusulkan peran strategis bagi Musk dalam kabinetnya untuk posisi kepala efisiensi, guna meningkatkan produktivitas di pemerintahan.
Pengaruh Strategi Musk dalam Pilpres AS
Dalam pemilihan presiden kali ini, Musk terlibat aktif dalam mendukung Trump. Salah satu strateginya termasuk mendanai kampanye dengan hadiah harian senilai US$1 juta bagi pemilih di negara-negara bagian kunci. Musk juga hadir dalam pertemuan strategis bersama Trump pada malam pemilu di Mar-a-Lago, menunjukkan peranannya yang cukup kuat dalam lingkaran dalam Trump.
Menurut analis Wedbush Securities, Dan Ives, langkah Musk ini adalah salah satu strategi paling efektif dalam bisnis. “Musk adalah pemenang besar dalam undian Trump ini,” kata Ives.
Tantangan dan Prospek Masa Depan
Kekayaan Musk sebagian besar berasal dari kepemilikannya di Tesla. Ke depan, prospek Tesla di bawah pemerintahan Trump bergantung pada kebijakan federal, khususnya terkait kendaraan listrik dan otonom. Musk sempat menyatakan dalam laporan keuangan Tesla bulan lalu bahwa ia akan mendesak percepatan regulasi bagi kendaraan otonom jika diangkat dalam pemerintahan Trump.
Pada awalnya, Trump sempat menunjukkan sikap skeptis terhadap kendaraan listrik, tetapi ia kemudian mengubah pendiriannya dan menyatakan dukungannya secara terbuka, terutama karena dorongan dari Musk yang mendukung penuh dirinya.
Keberhasilan Elon Musk menembus angka kekayaan US$300 miliar ini tidak hanya didorong oleh performa kuat saham Tesla, tetapi juga oleh hubungan strategisnya dengan presiden terpilih Donald Trump. Kolaborasi ini berpotensi memberikan keuntungan besar bagi Tesla dan SpaceX, serta memperkuat posisi Musk di panggung bisnis internasional.
Ke depannya, hubungan ini diperkirakan akan semakin berdampak pada kebijakan pemerintah AS terhadap perkembangan kendaraan listrik dan teknologi otonom.






