Pasukan Oposisi Kuasai Damaskus Abu Mohammad Al Jolani Tahan Diri Intervensi Israel Keluarga Assad Minggat ke Rusia

JurnalLugas.Com – Pada Minggu (8/12), pasukan oposisi bersenjata berhasil merebut kendali penuh atas Damaskus, menandai berakhirnya kekuasaan keluarga Assad yang telah berlangsung selama lebih dari lima dekade. Keruntuhan rezim Presiden Suriah Bashar Al Assad terjadi secara cepat, menyusul serangan pemberontak yang intens dalam kurun waktu kurang dari dua pekan.

Puncak dari rangkaian serangan ini ditandai dengan pengumuman dari pihak oposisi bahwa Bashar Al Assad telah meninggalkan Damaskus dan menyerahkan kekuasaannya. Media pemerintah Rusia kemudian mengonfirmasi bahwa Assad telah tiba di Moskow bersama keluarganya dan diberikan suaka. Kementerian Luar Negeri Rusia juga merilis pernyataan yang menyebutkan bahwa Assad telah “memutuskan untuk menyerahkan jabatan kepresidenan dan meninggalkan negara dengan damai.”

Bacaan Lainnya

Kekacauan di Damaskus

Di tengah pergolakan, Damaskus dilanda kekacauan. Rumah dan istana kepresidenan milik keluarga Assad diserbu oleh massa, yang juga melakukan penjarahan di berbagai tempat. Senjata-senjata yang ditinggalkan oleh tentara Suriah diambil oleh masyarakat setempat, sementara Kedutaan Besar Iran menjadi sasaran serangan militan bersenjata.

Baca Juga  Antony Blinken ISIS Mencoba Membangun Kekuatan di Suriah

Pemimpin kelompok Hayat Tahrir Al Sham (HTS), Abu Mohammad Al Jolani, yang memimpin serangan kilat tersebut, menginstruksikan pasukannya untuk menahan diri dari aksi kekerasan lebih lanjut. Ia juga meminta warga menjaga fasilitas umum, menegaskan bahwa infrastruktur negara adalah milik seluruh rakyat Suriah.

Mohammad Ghazi Al Jallali, perdana menteri yang ditunjuk Assad pada September lalu, ditugaskan untuk mengawasi transisi lembaga-lembaga publik. Dalam pidatonya yang disiarkan di televisi, Al Jallali mengajak masyarakat berpikir rasional demi kepentingan terbaik bangsa.

Intervensi Israel

Di tengah situasi yang tidak menentu, Israel melancarkan serangan udara yang intens ke situs-situs keamanan dan militer Suriah di Damaskus dan Quneitra. Serangan ini menyasar pos-pos militer yang sudah ditinggalkan, termasuk fasilitas yang sebelumnya dikelola oleh Divisi Keempat yang kini dibubarkan. Pasukan darat Israel juga dilaporkan memasuki wilayah Jabal Al Sheikh tanpa perlawanan, merebut pos-pos pengawasan lama.

Baca Juga  AS Gelontorkan Miliaran Dolar Bantu Negara Boneka Israel Perangi Palestina

Koalisi Nasional Suriah, sebuah aliansi oposisi yang dibentuk di pengasingan pada 2011, menyatakan komitmennya untuk mendorong terbentuknya badan pemerintahan transisi dengan kekuasaan eksekutif penuh. Langkah ini dianggap sebagai jalan menuju Suriah yang bebas, demokratis, dan pluralistis.

Meski transisi kekuasaan sedang berlangsung, Suriah kini berada di ambang ketidakpastian, dengan tantangan besar untuk memulihkan stabilitas dan memulai proses rekonstruksi nasional. Ketegangan yang terus berlangsung, baik di dalam negeri maupun dengan pihak luar, menunjukkan bahwa perjalanan menuju perdamaian masih panjang.

Tombol Google News - JurnalLugas

Pos terkait