JurnalLugas.Com – Badan Pusat Statistik (BPS) Aceh melaporkan peningkatan standar hidup layak penduduk Aceh pada 2024. Nilai standar hidup ini mencapai Rp10,81 juta per tahun atau sekitar Rp900 ribu per bulan, naik sebesar Rp477 ribu dibandingkan tahun 2023 yang tercatat sebesar Rp10,33 juta per tahun.
Ketua Tim Neraca BPS Aceh, Meita Jumiartanti, menjelaskan bahwa standar hidup layak dihitung berdasarkan pengeluaran rata-rata per kapita yang diperoleh dari survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) dan disesuaikan dengan indeks harga konsumen (IHK). “Standar layak hidup mencerminkan daya beli masyarakat pada periode tertentu. Jika pengeluaran berada di bawah angka tersebut, artinya kualitas hidupnya lebih rendah dibandingkan rata-rata, bukan berarti tidak layak,” ujar Meita di Banda Aceh, Sabtu (14/12/2024).
Kenaikan Pengeluaran Rata-Rata Per Kapita di Aceh
Data BPS menunjukkan tren peningkatan pengeluaran rata-rata per kapita penduduk Aceh dari tahun ke tahun. Pada 2020, pengeluaran riil per kapita tercatat sebesar Rp9,49 juta per tahun. Angka ini terus naik menjadi Rp9,57 juta pada 2021, Rp9,96 juta pada 2022, hingga Rp10,33 juta pada 2023. Pada 2024, nilai ini melonjak ke Rp10,81 juta per tahun.
“Peningkatan pengeluaran ini bukan hanya soal jumlah uang, tetapi juga mencerminkan kualitas pengeluaran yang lebih baik, seperti alokasi untuk pendidikan dan kesehatan,” tambah Meita.
Dominasi Pengeluaran pada Konsumsi Makanan
BPS juga mencatat bahwa daya beli masyarakat Aceh tahun ini masih didominasi oleh sektor konsumsi makanan, yang merupakan karakteristik umum wilayah atau negara berkembang. Berdasarkan data tahun 2023, konsumsi makanan penduduk Aceh di pedesaan menyumbang sekitar Rp666 ribu dari total pengeluaran per bulan, sementara di perkotaan mencapai Rp771 ribu.
“Di wilayah yang masih berkembang, pengeluaran masyarakat cenderung lebih besar untuk kebutuhan makanan dibandingkan non-makanan,” jelas Meita.
Impak Standar Hidup pada Masyarakat
Kenaikan standar hidup layak ini memberikan dampak positif pada masyarakat, terutama dalam akses terhadap kebutuhan pokok, pendidikan, dan kesehatan. Dengan meningkatnya daya beli, masyarakat Aceh memiliki kesempatan untuk meningkatkan kualitas hidup mereka melalui pilihan konsumsi yang lebih beragam dan berkualitas.
Standar hidup layak yang terus meningkat menjadi indikator penting bagi pembangunan ekonomi Aceh. Hal ini menunjukkan adanya perbaikan dalam kesejahteraan masyarakat, meskipun tantangan seperti ketergantungan pada konsumsi makanan masih menjadi perhatian.
Sebagai catatan, upaya meningkatkan daya beli masyarakat juga harus diiringi dengan pengembangan sektor ekonomi yang lebih luas, terutama di sektor non-makanan, guna menciptakan keseimbangan pengeluaran yang lebih optimal.






