Muhamad Syauqillah Waspada Ajakan Berjihad ke Suriah

JurnalLugas.Com – Ketua Program Studi Kajian Terorisme Sekolah Kajian Stratejik dan Global (SKSG) Universitas Indonesia, Muhamad Syauqillah, mengingatkan masyarakat untuk lebih waspada terhadap potensi terseret ke dalam politik praktis melalui ajakan berjihad ke Suriah. Fenomena ini, menurutnya, menjadi isu yang semakin mengemuka seiring dengan kemunculan seruan semacam itu di media sosial.

Ajakan Berjihad dan Narasi di Media Sosial

Syauqillah menyoroti narasi ajakan berjihad yang tersebar di media sosial oleh pihak-pihak tidak bertanggung jawab. Ia mempertanyakan esensi dari jihad yang dimaksud, sekaligus mengingatkan masyarakat agar tidak mudah terbujuk oleh jargon-jargon keagamaan yang seringkali dimanfaatkan untuk kepentingan tertentu.

Bacaan Lainnya

“Hal yang diserukan di media sosial itu jihad yang seperti apa? Siapa yang kita perangi di sana, lalu apakah dengan memerangi pihak tertentu di sana bisa kita klaim sebagai kegiatan berjihad? Menurut saya jelas tidak,” tegasnya.

Konflik di Suriah dan Dampaknya ke Indonesia

Syauqillah menjelaskan bahwa konflik di Suriah, yang melibatkan berbagai faksi dengan kepentingannya masing-masing, telah memicu dampak hingga ke Indonesia. Ia menyoroti bagaimana jatuhnya rezim Bashar Al-Assad menjadi momentum yang dimanfaatkan oleh kelompok teror untuk merekrut simpatisan, termasuk dari Tanah Air. Konflik tersebut, menurutnya, bukanlah pertarungan antara kebaikan dan kejahatan, melainkan benturan kepentingan politik dan ekonomi yang dibungkus dengan narasi simbolis keagamaan.

Baca Juga  Kubu Pemberontak Hassan Abdel Ghani dan Hayat Tahrir al-Sham Klaim Kepung Damaskus Suriah

Bahaya Ajakan Berangkat ke Luar Negeri

Ia juga mengingatkan bahwa ajakan berjihad ke luar negeri sering kali hanya membawa kerugian bagi mereka yang termakan propaganda. Banyak orang awam yang akhirnya tertipu oleh janji-janji manis, seperti yang terjadi di masa lalu ketika Islamic State of Iraq and Syria (ISIS) aktif merekrut warga dari berbagai negara, termasuk Indonesia.

“Kejadian seperti ini sudah pernah terjadi. Banyak warga Indonesia yang terlanjur pergi ke sana, namun akhirnya kembali dengan kekecewaan karena kenyataan di lapangan tidak sesuai dengan janji yang diberikan,” ujar Syauqillah. Selain itu, ia menambahkan bahwa keberangkatan warga negara Indonesia ke Suriah justru menciptakan masalah baru, terutama saat mereka meminta bantuan pemerintah untuk dipulangkan setelah menyadari kesalahan mereka.

Imbauan untuk Masyarakat Indonesia

Syauqillah menegaskan bahwa masyarakat Indonesia perlu bersikap kritis terhadap segala bentuk ajakan berjihad, terutama yang menggunakan jargon agama untuk memobilisasi dukungan. Konflik di Suriah, menurutnya, adalah dinamika internal negara tersebut yang tidak seharusnya melibatkan pihak luar. “Masyarakat Indonesia tidak perlu ikut terlibat dalam konflik yang tidak ada hubungannya dengan kepentingan kita sebagai bangsa,” katanya.

Baca Juga  Mikhail Bogdanov Rusia Dekati Hayat Tahrir al-Sham Suriah

Melalui pandangannya, Syauqillah berharap masyarakat Indonesia semakin cerdas dalam menyikapi isu-isu semacam ini, terutama di era digital di mana propaganda dan informasi menyesatkan mudah tersebar. Dengan demikian, masyarakat dapat terhindar dari risiko terjebak dalam konflik yang tidak hanya merugikan mereka secara pribadi, tetapi juga mencoreng nama baik bangsa di mata dunia.

Syauqillah mengingatkan bahwa langkah terbaik adalah menjaga kedamaian di negeri sendiri dan tidak terlibat dalam konflik bersenjata yang terjadi di negara lain, apalagi atas dasar propaganda yang tidak jelas.

Tombol Google News - JurnalLugas

Pos terkait