JurnalLugas.Com – Gerakan perjuangan Palestina, Hamas, dikabarkan tengah bersiap melanjutkan pertempuran di Jalur Gaza setelah mengalami kebuntuan dalam negosiasi gencatan senjata dengan Israel pada Rabu, 26 Februari 2025.
Sejumlah pejabat negara-negara Arab yang enggan disebutkan namanya mengungkapkan bahwa Hamas tengah mengonsolidasikan kembali kekuatan militernya. Langkah ini diambil sebagai persiapan apabila konflik kembali meletus di wilayah Gaza.
Persiapan Hamas untuk Pertempuran
Selain memperkuat strategi militernya, Hamas juga telah menunjuk komandan baru di sayap bersenjatanya. Para pejabat menyebut bahwa organisasi ini sedang menyusun strategi penempatan pasukan guna menghadapi potensi eskalasi dengan Israel.
Salah satu strategi yang diterapkan adalah pembentukan tim khusus untuk melacak mata-mata Israel yang berada di Gaza. Selain itu, Hamas juga mempercepat pemulihan jaringan terowongan bawah tanah sebagai bagian dari persiapan taktik gerilya.
Para anggota baru Hamas mendapatkan pelatihan intensif dalam penggunaan senjata dan strategi perang perkotaan guna menghadapi pasukan Israel yang disebut tengah berupaya menguasai Koridor Netzarim—jalur strategis yang membelah Gaza menjadi bagian utara dan selatan.
Tukar Sandera yang Tidak Berjalan Lancar
Sementara itu, negosiasi pertukaran sandera antara Hamas dan Israel menghadapi hambatan serius. Pada Sabtu (22/2), Hamas telah menyerahkan enam sandera Israel. Namun, pihak Israel menolak membebaskan lebih dari 600 tahanan Palestina yang sebelumnya dijadwalkan untuk ditukar.
Kantor Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, mengumumkan bahwa pelepasan tahanan Palestina akan ditunda hingga Hamas setuju untuk membebaskan lebih banyak sandera Israel tanpa syarat tambahan.
Gencatan Senjata yang Rentan Gagal
Sejak 19 Januari 2025, gencatan senjata berlaku di Jalur Gaza berdasarkan kesepakatan yang dimediasi oleh Qatar, Mesir, dan Amerika Serikat. Namun, perjanjian ini semakin rapuh akibat ketidaksepakatan antara kedua belah pihak.
Kesepakatan ini merupakan gencatan senjata kedua yang tercapai sejak konflik kembali memanas. Sebelumnya, pada November 2023, gencatan senjata pertama hanya bertahan selama enam hari sebelum pertempuran kembali pecah.
Dengan meningkatnya ketegangan di Gaza dan kebuntuan diplomasi, situasi di kawasan ini berpotensi kembali bergejolak dalam waktu dekat.
Baca berita kemerdekaan Palestina hanya di: JurnalLugas.Com






