JurnalLugas.Com – Raksasa otomotif asal Amerika Serikat, General Motors (GM), resmi mengumumkan penutupan sementara salah satu fasilitas perakitannya di Kanada. Keputusan ini berdampak langsung terhadap ratusan tenaga kerja dan memicu kekhawatiran baru di sektor industri otomotif.
Melalui pernyataan resminya, GM menyebut bahwa pabrik Canadian Automotive Manufacturing Inc. (CAMI) yang berlokasi di Ingersoll, Ontario, akan menghentikan sementara operasionalnya mulai Mei 2025. Pabrik tersebut diperkirakan baru akan kembali beroperasi pada musim gugur, itu pun hanya dengan kapasitas setengah dari kondisi normal.
PHK dan Penurunan Produksi
Penutupan sementara ini diperkirakan akan berimbas pada pemutusan hubungan kerja (PHK) terhadap hampir 500 pekerja. CAMI sendiri mempekerjakan sekitar 1.200 orang dan selama ini menjadi pusat perakitan kendaraan listrik van kargo Chevrolet BrightDrop yang dipasarkan di Amerika Utara.
Meski terjadi di tengah memanasnya hubungan perdagangan antara Kanada dan Amerika Serikat, General Motors menegaskan bahwa langkah tersebut tidak terkait langsung dengan tarif AS. Penutupan ini lebih disebabkan oleh penurunan permintaan pasar dan tingginya stok kendaraan yang belum terserap.
“CAMI sedang melakukan penyesuaian dalam operasional dan tenaga kerja guna menyeimbangkan tingkat inventaris dan menyesuaikan jadwal produksi dengan permintaan pasar yang ada,” jelas GM dalam keterangannya.
Dukungan Selama Masa Transisi
General Motors menyatakan akan memberikan dukungan kepada para karyawan yang terdampak, terutama selama periode transisi yang penuh ketidakpastian ini. Namun, detail bentuk dukungan tersebut belum dijelaskan lebih lanjut.
Tekanan Tarif dan Dampak Regional
Langkah GM ini datang tak lama setelah Stellantis, produsen mobil besar lainnya, mengumumkan penutupan pabrik di Windsor, Ontario, selama dua pekan. Situasi ini semakin mempertegas tekanan yang kini dihadapi industri otomotif Kanada.
Mulai 3 April, pemerintah Amerika Serikat memberlakukan tarif impor sebesar 25 persen terhadap kendaraan asal Kanada, kebijakan yang dinilai dapat mempengaruhi lebih dari 500.000 warga negara Kanada. Sebagai respons, pemerintah Kanada telah menerapkan tindakan balasan pada 9 April, memperkeruh suasana perdagangan bilateral.
Situasi ini menunjukkan bahwa kombinasi antara fluktuasi pasar dan tekanan geopolitik bisa berdampak signifikan terhadap industri besar seperti otomotif. Nasib ribuan pekerja pun kini berada dalam ketidakpastian, menanti langkah-langkah strategis lanjutan dari para pelaku industri maupun pemerintah.
📌 Baca berita ekonomi dan industri terkini lainnya hanya di JurnalLugas.Com






