JurnalLugas.Com – Pada 15 Mei 2025, ribuan orang turun ke jalan di berbagai kota besar Eropa untuk memperingati 77 tahun Nakba hari bersejarah saat lebih dari 700.000 warga Palestina diusir dari tanah air mereka pasca pendirian negara Israel pada 1948. Aksi damai ini juga menjadi wujud solidaritas terhadap rakyat Palestina yang hingga kini masih menghadapi kekerasan brutal di Jalur Gaza.
Massa Tumpah Ruah di Stockholm
Di ibu kota Swedia, Stockholm, ribuan peserta aksi memadati Lapangan Odenplan. Mereka mengibarkan bendera Palestina, membawa foto anak-anak korban, serta spanduk bertuliskan “Hentikan genosida rezim Zionis di Palestina.” Banyak demonstran juga mengangkat poster berisi nama-nama warga sipil yang gugur, sebagai pengingat atas tragedi kemanusiaan yang masih berlangsung.
Aktivis Yahudi Swedia, Dror Feiler, secara tegas menyebut serangan Israel sebagai genosida dan mengecam diamnya pejabat tinggi Swedia, termasuk Menteri Luar Negeri Maria Malmer Stenergard. Pernyataan tersebut didukung Pendeta Ann Christin Kristiansson dari Gereja Swedia, yang menyuarakan pentingnya perlawanan sipil terorganisir dan menekankan bahwa target serangan Israel adalah perempuan, anak-anak, dan warga sipil.
Lautan Massa di London: “Israel adalah Teroris”
Di London, Inggris, ratusan ribu warga ikut serta dalam pawai solidaritas menuju Downing Street. Aksi ini bertepatan dengan peringatan 77 tahun Nakba dan disertai yel-yel “Bebaskan Palestina” dan “Hentikan genosida di Gaza.” Massa mengenakan keffiyeh dan membawa bendera Palestina, sambil mengecam blokade yang menyebabkan jutaan warga Gaza kelaparan.
Sejumlah tokoh publik turut hadir, seperti aktor The Crown Khalid Abdalla, aktris Juliet Stevenson, serta mantan diplomat Amerika, Ann Wright. Duta Besar Palestina untuk Inggris, Husam Zomlot, menegaskan bahwa genosida telah terjadi sejak 1948, bukan sekadar akibat agresi belakangan ini.
Mantan Ketua Partai Buruh Jeremy Corbyn dan anggota parlemen Apsana Begum turut menyuarakan kritik terhadap ekspor senjata Inggris ke Israel. Sementara itu, Ben Jamal dari Kampanye Solidaritas Palestina menyebut bahwa sejarah akan mencatat siapa saja yang gagal menghentikan kekejaman militer tersebut.
Berlin dan Amsterdam: Suara Lantang dari Tengah Kota
Potsdamer Platz di Berlin menjadi lokasi aksi damai yang dijaga ketat polisi. Ratusan peserta membawa poster bertuliskan “Diam berarti bersalah” dan “Kalian tak bisa membunuh kami semua.” Sedikitnya tiga orang ditahan dalam aksi yang berlangsung kondusif.
Di Amsterdam, massa berkumpul di Lapangan Dam. Mereka mengutuk kekerasan Israel dan menyerukan pencabutan blokade Gaza. “Gaza berada di ambang Nakba baru,” ujar Mohammed Kotesh, salah satu peserta. Poster yang dibawa menyuarakan pesan seperti “Boikot Israel” dan “Palestina akan merdeka.”
Athena Bersatu untuk Palestina
Aksi serupa juga berlangsung di Athena, Yunani. Ratusan peserta mengenakan keffiyeh dan membawa bendera Palestina saat berbaris menuju Kedutaan Besar AS dan Israel. Ketua Asosiasi Muslim Yunani, Naim el-Ghandour, mengusulkan konferensi global untuk menghentikan kekerasan, dengan Turki sebagai pemimpin inisiatif damai.
Warga Gaza yang hadir, Muhammed el-Batta, mengatakan bahwa kekerasan saat ini bukan lagi perang, melainkan genosida sistematis yang telah berlangsung selama puluhan tahun.
Mengenal Nakba: Tragedi yang Masih Berlangsung
Hari Nakba atau “Bencana Besar” diperingati setiap 15 Mei untuk mengenang pengusiran paksa ratusan ribu warga Palestina pada 1948. Sejak agresi terbaru dimulai pada 7 Oktober 2023, serangan Israel ke Gaza telah menewaskan lebih dari 53.000 orang, mayoritas adalah perempuan dan anak-anak.
Pada November 2024, Mahkamah Pidana Internasional (ICC) mengeluarkan surat perintah penangkapan terhadap Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dan mantan Menteri Pertahanan Yoav Gallant atas dugaan kejahatan perang. Selain itu, Israel juga tengah menghadapi gugatan genosida di Mahkamah Internasional (ICJ).
Dengan meningkatnya solidaritas global, tekanan terhadap Israel dan negara-negara pendukungnya diprediksi akan terus menguat.
Baca berita independen dan tajam lainnya di JurnalLugas.Com.






