Bursa Asia Melemah Trump Terapkan Tarif 19% Ekspor Indonesia & Wall Street Variatif

JurnalLugas.Com — Bursa saham Asia terpantau melemah pada Rabu (16/7/2025) di tengah ketidakpastian global usai pengumuman Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump terkait penerapan tarif baru terhadap ekspor Indonesia. Sentimen pelaku pasar juga dipengaruhi laporan inflasi AS serta rencana perubahan pucuk pimpinan The Fed.

Hingga pukul 09.06 WIB, indeks Nikkei 225 Jepang mencatat penurunan sebesar 0,13 persen, sedangkan indeks Topix terkoreksi 0,23 persen. Sementara itu, Shanghai Composite terdepresiasi 0,15 persen, ASX 200 Australia turun 0,79 persen, dan CSI 300 China melemah 0,16 persen. Hanya Hang Seng Hong Kong yang menguat 0,70 persen, dan STI Singapura yang naik tipis 0,20 persen.

Bacaan Lainnya

Trump Umumkan Tarif Baru untuk Indonesia

Presiden Donald Trump pada Selasa waktu setempat mengumumkan kesepakatan dagang awal dengan Indonesia. Dalam pernyataan resminya, Trump menyebut kesepakatan itu mencakup tarif baru sebesar 19 persen atas sejumlah komoditas ekspor Indonesia ke pasar AS.

Kebijakan tersebut dinilai mengejutkan pelaku pasar dan menambah tekanan pada pasar regional. Menurut analis senior di Tokyo Investment, Y. Nakamura, langkah Trump menambah ketidakpastian di tengah pemulihan yang masih rapuh.

Baca Juga  Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Berpotensi Menguat di Perdagangan Hari Ini

“Pasar sudah gelisah dengan tren inflasi AS, dan tarif tambahan ini bisa memperdalam kekhawatiran terhadap prospek perdagangan global,” ujar Nakamura.

Sentimen Manufaktur Jepang Sedikit Membaik

Dari Jepang, sentimen bisnis di sektor manufaktur mencatatkan perbaikan ringan pada Juli 2025. Data resmi menunjukkan indeks sentimen naik ke level +7, dari +6 pada bulan sebelumnya. Sementara itu, indeks untuk sektor jasa tetap stabil di angka +30, mempertahankan level tersebut selama tiga bulan berturut-turut.

Perbaikan ini dipicu oleh pulihnya sektor semikonduktor, meski pelaku usaha masih mencermati potensi dampak tarif AS terhadap prospek ekspor.

Wall Street Berakhir Campuran, Nasdaq Cetak Rekor

Bursa saham AS atau Wall Street ditutup bervariasi pada perdagangan Selasa. Dow Jones Industrial Average melemah 1 persen ke level 44.023,3, sementara S\&P 500 turun 0,4 persen ke posisi 6.243,8. Berbeda, indeks Nasdaq justru naik 0,2 persen ke 20.677,8 dan mencetak rekor tertinggi baru berkat lonjakan saham Nvidia.

Sektor teknologi menjadi satu-satunya penopang indeks, sementara sektor material mencatat koreksi terdalam dengan penurunan 2,1 persen.

Inflasi AS Meningkat, The Fed Didorong Tahan Suku Bunga

Inflasi konsumen AS naik dengan laju tercepat sejak Januari. Laporan MT Newswires menyebutkan, tarif baru berdampak langsung pada sejumlah barang konsumen seperti buah, sayuran segar, dan peralatan rumah tangga.

Baca Juga  4 Saham Pendatang Baru Masuk Top Gainers BEI CDIA Naik 143% Pekan Ini

“Rinciannya menunjukkan adanya dampak awal tarif terhadap harga komponen barang tertentu. Namun, sebagian tekanan harga ini tertahan oleh pelonggaran pada biaya tempat tinggal,” demikian catatan analis ING Bank.

TD Economics menilai bahwa efek tarif kemungkinan akan berlangsung sepanjang musim panas. Hal ini memperkuat ekspektasi bahwa The Fed akan mempertahankan sikap hati-hati dan menunda kebijakan pemangkasan suku bunga.

“Dengan laju inflasi yang lebih tinggi dan pengangguran yang tetap rendah, pemangkasan suku bunga kemungkinan baru terjadi pada 2026,” ujar Morgan Stanley.

Imbal hasil obligasi pemerintah AS juga mengalami kenaikan. Yield tenor 10 tahun naik 4,9 basis poin menjadi 4,49 persen, sedangkan tenor 2 tahun naik 4 basis poin ke 3,96 persen. Sementara itu, data indeks harga produsen (PPI) AS untuk bulan Juni dijadwalkan dirilis Rabu malam waktu setempat, yang diperkirakan akan memberi petunjuk tambahan arah kebijakan moneter ke depan.

Selengkapnya di JurnalLugas.Com.

Tombol Google News - JurnalLugas

Pos terkait