PT Xolare RCR Energy Tbk (SOLA) Gandeng Apolpo AS Bangun Pusat Teknologi Penangkapan Karbon Indonesia

Business people shaking hands to congratulate success. Business executives handshake to congratulate the joint business agreement.

JurnalLugas.Com — PT Xolare RCR Energy Tbk (SOLA) resmi menjalin kemitraan strategis dengan perusahaan energi asal Amerika Serikat (AS), Apolpo, untuk menggarap peluang di sektor penangkapan, pemanfaatan, dan penyimpanan karbon atau Carbon Capture, Utilization, and Storage (CCUS). Kerja sama ini digadang-gadang menjadi langkah besar dalam mendukung agenda transisi energi bersih di Indonesia.

Dalam kesepakatan tersebut, Xolare akan menjadi mitra eksklusif Apolpo untuk merancang, mengembangkan, dan mengimplementasikan berbagai proyek CCUS di Tanah Air. Fokusnya meliputi sektor industri utama seperti manufaktur dan energi yang selama ini menjadi penyumbang emisi karbon terbesar.

Bacaan Lainnya

Perwakilan Apolpo, Joel B. Cardoni, mengungkapkan bahwa prospek ekonomi teknologi CCUS di Indonesia semakin jelas. Menurutnya, negeri ini memiliki potensi pasar karbon yang besar, ditopang oleh arah kebijakan pemerintah yang kian berpihak pada pengurangan emisi.

“Indonesia berada pada posisi strategis untuk menjadi pusat pengembangan CCUS di Asia Tenggara. Kemitraan ini adalah langkah nyata untuk merealisasikan potensi tersebut,” ujarnya melalui keterangan resmi.

Direktur Utama Xolare, Mochamad Bhadaiwi, menyampaikan bahwa pihaknya menyambut kolaborasi ini dengan penuh antusias. Menurutnya, kemitraan dengan Apolpo menjadi peluang penting bagi Xolare untuk ikut aktif dalam pengelolaan karbon sekaligus membuka pintu investasi berskala besar.

“Kami ingin menghadirkan solusi CCUS yang terintegrasi dan berskala nasional, yang mampu mendukung transformasi energi Indonesia menuju target nol emisi bersih,” katanya.

Tahap Awal dan Rencana Besar

Pada tahap awal, kedua perusahaan akan melakukan identifikasi sumber emisi industri, pemetaan lokasi potensial untuk penyimpanan karbon, serta merancang infrastruktur dan sistem transportasi yang dibutuhkan. Selain itu, akan dilakukan koordinasi intensif dengan regulator dan investor, serta penyusunan proyek percontohan.

Rencana jangka panjang juga mencakup pendirian pusat keunggulan CCUS di Indonesia dan integrasi teknologi ini dengan pasar kredit karbon. Langkah ini diharapkan memperkuat posisi Indonesia di kancah internasional sebagai salah satu pelopor pengembangan teknologi pengurangan emisi.

Peluang Pasar Menggiurkan

Berdasarkan data riset pasar internasional, nilai pasar global CCUS diprediksi menembus USD 17,5 miliar pada 2030, dengan pertumbuhan tahunan rata-rata di atas 19 persen. Faktor pendorongnya antara lain regulasi ketat terkait emisi dan komitmen global menuju target net-zero.

Di tingkat nasional, potensi investasi sektor CCUS di Indonesia diperkirakan mencapai lebih dari USD 3 miliar hingga 2035. Besarnya peluang tersebut membuat banyak pelaku industri, termasuk Xolare dan Apolpo, berupaya menjadi pionir dalam pengembangan teknologi ini.

Apolpo sendiri berbasis di Michigan, AS, dan dikenal memiliki jaringan mitra strategis global seperti Terraforma, greyfly.ai, Quanto Solutions, dan GPM Global. Kolaborasi dengan Xolare diharapkan mampu memadukan keahlian teknologi internasional dengan potensi sumber daya dan pasar Indonesia.

Dengan kerja sama ini, Indonesia bukan hanya akan menjadi pengguna teknologi CCUS, tetapi juga berpotensi menjadi pusat inovasi dan produksi teknologi hijau di kawasan Asia Tenggara.

Baca berita lengkap dan perkembangan terbarunya hanya di JurnalLugas.Com.

Tombol Google News - JurnalLugas
Baca Juga  TikTok ByteDance Dilarang di AS 170 juta Pelanggan Meradang

Pos terkait