Minyak Dunia Drop! Saham ENRG Jatuh 13% RATU dan RAJA Justru Menguat

JurnalLugas.Com — Harga minyak mentah global terus mengalami tekanan selama enam hari berturut-turut dan kini terjun meninggalkan level psikologis USD70 per barel yang sempat dicapai pada akhir Juli 2025. Kondisi ini memicu kekhawatiran investor terhadap kinerja saham-saham energi, terutama emiten sektor minyak dan gas (migas) di Bursa Efek Indonesia (BEI).

Saham Migas di BEI Bergerak Campuran

Bacaan Lainnya

Berdasarkan data perdagangan sesi I, Jumat (8/8/2025), pergerakan saham emiten migas menunjukkan tren yang beragam. Saham PT Raharja Energi Cepu Tbk (kode: RATU) justru mampu menguat signifikan sebesar 4,35 persen. Kenaikan ini diikuti oleh induknya, PT Rukun Raharja Tbk (RAJA) yang mencatat kenaikan sebesar 1,92 persen.

Peningkatan harga saham RATU dan RAJA dikaitkan dengan efek positif dari inklusi dalam indeks global MSCI. “Efek psikologis dari dimasukkannya emiten ke dalam indeks global biasanya menarik perhatian investor institusi,” kata analis pasar modal M.Y., Jumat (8/8/2025).

PT Elnusa Tbk (ELSA), salah satu penyedia jasa penunjang migas, juga turut menguat meskipun tipis, yakni sebesar 0,42 persen. Namun, tidak semua emiten migas merasakan hal serupa.

Saham PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG) justru rontok hingga 13,39 persen. Koreksi dalam juga dialami oleh PT Radiant Utama Interinsco Tbk (RUIS) yang turun 6,36 persen, serta PT Apexindo Pratama Duta Tbk (APEX) yang melemah 3,85 persen.

Saham-saham besar seperti PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC) dan PT AKR Corporindo Tbk (AKRA) juga tidak luput dari tekanan, masing-masing terkoreksi sebesar 3,23 persen dan 0,77 persen.

Minyak Tertekan Faktor Geopolitik dan Ekonomi Global

Penurunan harga minyak dunia disebabkan oleh kombinasi beberapa faktor, salah satunya adalah potensi deeskalasi konflik Ukraina. Pada Kamis (7/8), Kremlin mengumumkan rencana pertemuan antara Presiden Rusia Vladimir Putin dan Presiden AS Donald Trump dalam beberapa hari ke depan. Langkah ini dianggap sebagai sinyal positif menuju solusi diplomatik untuk menghentikan konflik yang telah berlangsung lama.

Baca Juga  Harga Minyak Mentah Dunia Anjlok Pasar Cemas Surplus Pasokan

Minyak Brent turun 0,7 persen menjadi USD66,43 per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) juga melemah 0,7 persen ke USD63,88 per barel. Kedua acuan harga ini juga terkoreksi sekitar 1 persen sehari sebelumnya.

“Selama tidak ada risiko geopolitik baru atau pemangkasan produksi tambahan dari OPEC+, harga minyak masih cenderung melemah,” jelas M.Y.

AS Siapkan Sanksi dan Tarif Tambahan

Meskipun ada sinyal positif dari rencana pertemuan tingkat tinggi AS-Rusia, Washington tetap bergerak dengan agenda keras. Pemerintah AS dikabarkan tetap menyiapkan sanksi sekunder terhadap pembeli utama produk energi Rusia. Selain itu, Presiden Trump juga menjatuhkan tarif impor tambahan sebesar 25 persen terhadap barang-barang asal India, menyusul langkah India yang masih membeli minyak dari Rusia.

Langkah ini dinilai bisa memperburuk sentimen pasar energi karena memicu potensi perang dagang baru, khususnya dengan China yang juga menjadi pembeli utama minyak Rusia.

Produksi OPEC Naik, Pasar Kian Tertekan

Tekanan lain bagi harga minyak berasal dari keputusan Organisasi Negara-Negara Pengekspor Minyak (OPEC) dan sekutunya atau OPEC+, yang sepakat menaikkan produksi minyak sebesar 547.000 barel per hari pada bulan September.

Kenaikan pasokan ini memperkuat sentimen negatif pasar. “Kenaikan produksi OPEC yang berkelanjutan tetap menjadi tekanan utama bagi pasar, sementara ketidakpastian tarif menjadi alasan dominan yang mendukung pelemahan harga,” ujar analis dari Ritterbusch and Associates, dikutip dari Reuters.

Stok Minyak AS Turun, Asia Tetap Menyerap Pasokan

Meski harga minyak global melemah, beberapa data menunjukkan permintaan tetap ada. Badan Informasi Energi AS (EIA) mencatat persediaan minyak mentah di AS turun 3 juta barel menjadi 423,7 juta barel pada pekan yang berakhir 1 Agustus, jauh lebih besar dari estimasi penurunan 591.000 barel.

Baca Juga  Harga Minyak Dunia Melonjak Tajam Setelah Iran Stop Negosiasi AS

Di Asia, Arab Saudi – sebagai pengekspor minyak terbesar dunia – menaikkan harga jual untuk pengiriman ke kawasan Asia pada bulan September. Ini merupakan kenaikan harga bulanan kedua secara berturut-turut, menandakan optimisme atas permintaan dari kawasan ini.

China juga menunjukkan tren positif. Meskipun impor minyak mentahnya pada Juli turun 5,4 persen dibandingkan bulan sebelumnya, secara tahunan masih tumbuh 11,5 persen. Analis memperkirakan aktivitas kilang (refinery) akan tetap tinggi dalam waktu dekat, yang berarti permintaan minyak mentah belum akan surut sepenuhnya.

Saham Migas Butuh Katalis Fundamental

Kembali ke pasar saham domestik, analis M.Y. menjelaskan bahwa prospek saham-saham migas masih akan sangat bergantung pada perkembangan harga minyak dunia dan sentimen eksternal.

“Tanpa pemicu fundamental yang kuat, sulit bagi saham-saham seperti AKRA, ELSA, dan MEDC untuk keluar dari fase konsolidasi. Perlu katalis yang cukup kuat bagi emiten-emiten ini agar bisa keluar dari sideways panjang ini,” ungkapnya.

Investor disarankan tetap waspada terhadap dinamika global yang cepat berubah, khususnya yang berkaitan dengan geopolitik, kebijakan tarif, dan kebijakan OPEC+.

Dengan fluktuasi harga minyak yang semakin sensitif terhadap isu global, investor di sektor migas harus mencermati lebih detail perkembangan dunia internasional. Di tengah tekanan harga dan sentimen negatif, hanya saham-saham dengan kekuatan fundamental serta proyeksi jangka panjang yang solid yang bisa bertahan, bahkan mungkin menjadi peluang investasi menarik ke depan.

Untuk berita selengkapnya seputar perkembangan harga minyak dan saham migas lainnya, kunjungi JurnalLugas.Com.

Tombol Google News - JurnalLugas

Pos terkait