JurnalLugas.Com — Kabinet Merah Putih Presiden Prabowo Subianto kini bersih dari wajah relawan Jokowi. Dua figur yang sebelumnya dikenal dekat dengan mantan Presiden Joko Widodo sudah tidak lagi menempati kursi penting. Immanuel Ebenezer alias Noel diberhentikan dari posisi Wakil Menteri Ketenagakerjaan karena namanya terseret dugaan kasus korupsi, sementara Budi Arie Setiadi digeser dari jabatan Menteri Koperasi dalam reshuffle terbaru.
Budi Arie, Ketua Umum Projo yang sejak 2014 menjadi motor relawan Jokowi, awalnya sempat percaya diri tak akan tersentuh perombakan kabinet. Pagi sebelum pengumuman resmi, ia bahkan menegaskan bahwa reshuffle adalah hak penuh presiden. Namun, sore harinya justru ia ikut tergeser dari kabinet.
Pencopotan ini membuat tidak ada lagi sosok relawan Jokowi yang tersisa di Kabinet Prabowo. Situasi tersebut menimbulkan spekulasi publik mengenai arah hubungan politik kedua tokoh, mengingat Jokowi sebelumnya digadang punya peran besar dalam mengantarkan Prabowo ke kursi RI-1.
Pengamat politik Universitas Islam Negeri Jakarta, Adi Prayitno, menegaskan bahwa pergantian menteri tidak bisa dibaca sebagai tanda kerenggangan hubungan. Menurutnya, keputusan Presiden Prabowo lebih tepat dipahami sebagai bentuk penegasan standar kinerja.
“Jangan buru-buru mengaitkan pencopotan ini dengan persoalan politik antara Jokowi dan Prabowo. Yang terjadi lebih ke soal evaluasi kerja. Kalau seorang pejabat dianggap menimbulkan masalah atau tidak memberi hasil maksimal, wajar kalau presiden melakukan penggantian,” kata Adi saat dimintai keterangan.
Adi menambahkan, reshuffle ini menunjukkan bahwa Prabowo ingin kabinetnya berjalan tanpa hambatan, terlepas dari latar belakang politik para pembantunya. Loyalitas, ujarnya, tidak bisa menggantikan kebutuhan akan hasil kerja nyata.
Dengan demikian, hilangnya relawan Jokowi dari Kabinet Merah Putih menjadi penanda bahwa Presiden Prabowo lebih mengutamakan kinerja dibanding ikatan politik lama.






