JurnalLugas.Com – Bursa Efek Indonesia (BEI) merilis daftar sepuluh saham dengan penurunan harga terdalam sepanjang perdagangan 15–19 September 2025. Fenomena ini cukup kontras, sebab di periode yang sama Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) justru berhasil menembus level tertinggi sepanjang sejarah di angka 8.051, atau naik 2,51 persen dalam sepekan.
Meski IHSG melesat, sejumlah saham harus rela masuk ke daftar top losers. Posisi terparah ditempati oleh PT MSIG Life Insurance Indonesia Tbk (LIFE), yang sahamnya ambruk 21,11 persen, dari Rp16.700 menjadi Rp13.175 per lembar.
Di belakangnya, PT Paperocks Indonesia Tbk (PPRI) menyusut 20,85 persen ke Rp334 dari posisi pekan lalu di Rp422.
“Pergerakan saham-saham ini lebih dipengaruhi faktor individual ketimbang tren pasar secara keseluruhan. Investor tetap harus berhati-hati, terutama pada saham dengan volatilitas tinggi,” ujar seorang analis pasar modal yang enggan disebutkan namanya (Sabtu, 20/9).
Daftar 10 Saham Top Losers BEI Sepekan (15–19 September 2025):
- LIFE – PT MSIG Life Insurance Indonesia Tbk, anjlok 21,11% ke Rp13.175
- PPRI – PT Paperocks Indonesia Tbk, melemah 20,85% ke Rp334
- OKAS – PT Ancora Indonesia Resources Tbk, turun 18,05% ke Rp218
- ITMA – PT Sumber Energi Andalan Tbk, tergelincir 16,18% ke Rp1.140
- KETR – PT Ketrosden Triasmitra Tbk, tertekan 16,17% ke Rp482
- WIRG – PT WIR ASIA Tbk, terkoreksi 14,20% ke Rp151
- KRYA – PT Bangun Karya Perkasa Jaya Tbk, turun 13,11% ke Rp212
- PTSN – PT Sat Nusapersada Tbk, melemah 12,77% ke Rp410
- GRIA – PT Ingria Pratama Capitalindo Tbk, terpangkas 12,06% ke Rp124
- NRCA – PT Nusa Raya Cipta Tbk, terkoreksi 12,04% ke Rp950
Kontras dengan IHSG
Meskipun saham-saham di atas tertekan, secara makro pasar masih menunjukkan tren positif. Analis menilai pencapaian IHSG ke level all time high (ATH) mencerminkan kepercayaan investor terhadap prospek ekonomi Indonesia, khususnya di sektor perbankan dan konsumsi.
“Investor perlu mencermati sektor yang justru menopang kenaikan indeks, seperti perbankan besar, komoditas, dan telekomunikasi. Sedangkan saham-saham yang masuk top losers bisa jadi momentum untuk evaluasi ulang portofolio,” tambah analis tersebut.
Pergerakan kontras ini menegaskan pentingnya diversifikasi serta pemantauan sentimen global maupun domestik, agar investor tidak terjebak hanya pada tren jangka pendek.
Baca berita pasar modal lainnya di 👉 JurnalLugas.Com






