Minyak Brent & WTI Sentuh Level Terendah 4 Bulan, Apa Penyebabnya?

JurnalLugas.Com — Harga minyak global terus melemah selama beberapa hari terakhir dan kini menyentuh titik terendah dalam empat bulan terakhir. Tekanan datang dari kombinasi gejolak politik di Amerika Serikat serta spekulasi meningkatnya pasokan minyak dari negara-negara anggota OPEC+.

Pasar energi internasional merespons negatif terhadap kondisi pemerintahan Amerika yang mengalami shutdown. Situasi tersebut menimbulkan ketidakpastian terhadap rilis data ekonomi sekaligus memicu kekhawatiran perlambatan permintaan bahan bakar di negara dengan konsumsi energi terbesar di dunia itu.

Bacaan Lainnya

Analis senior energi, P. Flynn, menilai bahwa kenaikan stok minyak mentah di AS menambah beban harga. “Stok naik setelah ekspor menurun, sementara kekhawatiran tentang kondisi fiskal AS membuat pasar semakin sensitif,” ujarnya.

Baca Juga  Donald Trump Biang Kerok Melambungnya Harga Minyak di Amerika Serikat

Selain faktor internal Amerika, sorotan juga tertuju pada OPEC+. Beberapa laporan menyebutkan organisasi produsen minyak tersebut sedang mempertimbangkan peningkatan produksi dalam waktu dekat, bahkan mencapai setengah juta barel per hari. Walau begitu, pihak OPEC menegaskan lewat pernyataan resmi bahwa kabar itu dianggap menyesatkan. Mereka menekankan tetap memegang prinsip kesepakatan produksi yang sudah berjalan serta disiplin terhadap pemangkasan tambahan.

Di tengah polemik tersebut, data terbaru dari Badan Informasi Energi AS menunjukkan persediaan minyak mentah meningkat 1,8 juta barel, jauh di atas ekspektasi pasar. Kondisi ini memperkuat sinyal bahwa pelemahan ekspor menjadi penyebab utama stok menumpuk di dalam negeri. Dampaknya terasa langsung pada pergerakan harga, di mana kontrak minyak Brent turun ke level USD 65,35 per barel dan West Texas Intermediate (WTI) merosot menjadi USD 61,78 per barel.

Tekanan juga datang dari Asia, kawasan dengan konsumsi minyak terbesar, yang kini menghadapi perlambatan sektor manufaktur di sejumlah negara utama. Pada saat yang sama, Rusia justru mencatat lonjakan ekspor minyak dari pelabuhan barat, sementara Venezuela berhasil mengirimkan minyak dalam jumlah tertinggi sejak empat tahun terakhir.

Baca Juga  Serangan Militer AS ke Iran Jadi Biang Kerok Harga Minyak Melambung, Trump Frustasi

Gabungan faktor-faktor tersebut memperlihatkan bahwa pasar energi global tengah berada di fase ketidakpastian yang kompleks. Bukan hanya karena isu geopolitik dan pasokan, tetapi juga akibat fluktuasi permintaan yang dipengaruhi oleh situasi ekonomi dunia.

Untuk pembahasan lebih lengkap seputar perkembangan energi global, kunjungi JurnalLugas.Com.

Tombol Google News - JurnalLugas

Pos terkait