JurnalLugas.Com — Kelompok Houthi di Yaman kembali memicu kecaman internasional setelah dilaporkan menahan 20 pegawai Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di kompleks perumahan organisasi tersebut di ibu kota Sanaa. Insiden ini memperburuk hubungan antara kelompok bersenjata itu dan lembaga kemanusiaan dunia di tengah meningkatnya ketegangan politik di kawasan.
Seorang sumber dari Kantor PBB di Yaman, yang enggan disebutkan namanya, mengungkapkan bahwa pasukan intelijen bersenjata Houthi menyerbu Fasilitas Akomodasi Bersama PBB di Jalan Hadda pada Sabtu (18/10). “Sebelas pegawai lokal telah dibebaskan pada Minggu malam, namun 20 staf lainnya, termasuk 15 warga asing dan lima warga Yaman, masih ditahan,” ujarnya.
Menurut sumber tersebut, para petugas intelijen Houthi masih menempati kompleks dan terus melakukan interogasi terhadap para pegawai yang ditahan. “Mereka hanya diperbolehkan berkomunikasi dengan keluarga di bawah pengawasan ketat,” tambahnya.
Hingga kini, PBB belum mengeluarkan pernyataan resmi terkait penahanan tersebut. Namun, seorang pejabat keamanan Yaman mengatakan kepada media internasional bahwa Houthi menyita ponsel para pegawai dan memeriksa isi perangkat mereka sebagai bagian dari operasi yang disebut “kampanye pembersihan” terhadap dugaan aktivitas mata-mata di wilayah kekuasaan mereka.
Operasi itu terjadi tidak lama setelah pidato pemimpin Houthi, Abdulmalik al-Houthi, pada Kamis (16/10). Dalam pidatonya, ia menuding adanya “sel mata-mata berbahaya” yang beroperasi di balik lembaga kemanusiaan, termasuk Program Pangan Dunia (WFP), yang disebutnya terlibat dalam aksi intelijen membantu Israel menargetkan tokoh senior Houthi di Sanaa pada Agustus lalu.
Hubungan antara kelompok Houthi dan lembaga kemanusiaan internasional memang memburuk dalam beberapa bulan terakhir. Ketegangan meningkat sejak serangan udara Israel di Yaman yang menewaskan beberapa pemimpin Houthi, yang kemudian memicu tuduhan terhadap staf asing.
Menanggapi insiden tersebut, Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres menyatakan keprihatinan mendalam pada Jumat (17/10). Ia menilai tuduhan yang dilontarkan Houthi sebagai “berbahaya dan tidak dapat diterima.” Guterres menuntut pembebasan segera semua staf PBB yang masih ditahan serta menyerukan agar otoritas Houthi menjamin keselamatan seluruh pekerja kemanusiaan di Yaman.
Sejak Juni 2024, puluhan staf PBB dan personel organisasi bantuan dilaporkan telah ditahan oleh kelompok Houthi, meski desakan pembebasan terus disuarakan oleh komunitas internasional.
Selengkapnya kunjungi JurnalLugas.Com






