JurnalLugas.Com – Sosok aktivis buruh perempuan asal Jawa Timur, Marsinah, kembali menjadi perbincangan hangat publik. Presiden Prabowo Subianto resmi menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional kepada Marsinah bersama sembilan tokoh lainnya pada peringatan Hari Pahlawan, Senin (10/11/2025) di Istana Negara, Jakarta.
Marsinah dikenal luas sebagai simbol perjuangan buruh yang berani memperjuangkan hak-hak pekerja di era Orde Baru. Keberaniannya melawan ketidakadilan membuat namanya abadi dalam sejarah gerakan buruh Indonesia.
“Penghargaan ini bukan hanya untuk Marsinah, tetapi juga bagi semua pejuang keadilan dan buruh yang berani bersuara,” ujar salah satu pejabat istana yang enggan disebutkan namanya.
Kisah Tragis yang Menginspirasi Generasi Baru
Marsinah ditemukan meninggal dunia secara tragis pada 8 Mei 1993, setelah sebelumnya aktif memperjuangkan hak-hak rekan kerja di PT Catur Putra Surya (CPS), Sidoarjo. Kasus kematiannya hingga kini menjadi simbol ketidakadilan yang belum sepenuhnya terungkap.
Penetapan Marsinah sebagai Pahlawan Nasional dianggap sebagai langkah monumental untuk mengakui perjuangan kaum pekerja perempuan Indonesia dalam memperjuangkan martabat dan keadilan sosial.
Film “Marsinah: Cry Justice”, Potret Luka dan Harapan
Perjalanan hidup dan misteri kematian Marsinah pernah diangkat ke layar lebar lewat film “Marsinah: Cry Justice”, garapan Slamet Rahardjo Djarot. Film berdurasi 115 menit ini diproduksi oleh PT Gedam Sinemuda Perkasa, dengan produser Gusti Randa, Damsyik Syamsul Bachri, dan Emirsyah.
Skenarionya ditulis oleh Agung Bawantara, Eros Djarot, Karsono Hadi, dan Slamet Rahardjo Djarot. Film ini pertama kali tayang di Festival Film Internasional Pusan, Korea Selatan (15 November 2001), dan kemudian dirilis di Indonesia pada 18 April 2002. Film tersebut juga mewakili Indonesia di Festival Film CINEFAN, India (19 Juli 2003).
Bukan Sekadar Biografi, Tapi Cermin Buram Hukum dan Kemanusiaan
Berbeda dari film biografi biasa, “Marsinah: Cry Justice” tidak menggambarkan langsung detik-detik penculikan Marsinah. Film ini justru berfokus pada kekacauan proses hukum pasca kematiannya.
Kisahnya dibuka dengan suasana kelam pasca ditemukannya jasad Marsinah. Melalui teknik kilas balik berwarna hitam putih, penonton diajak menelusuri ingatan para pekerja yang hidup dalam ketakutan. Film ini memperlihatkan bagaimana hukum dapat dipelintir oleh kekuasaan, menyoroti sisi gelap keadilan di masa itu.
Salah satu tokoh sentral adalah Mutiari, Kepala Personalia PT CPS, yang ditangkap dan disiksa hingga kehilangan janin akibat interogasi brutal aparat. Ia dijadikan tersangka sebagai bentuk pelampiasan tekanan publik terhadap aparat penegak hukum.
“Lewat film ini, kami ingin menyuarakan bahwa keadilan bisa lenyap ketika kekuasaan berbicara lebih keras,” ungkap Slamet Rahardjo dalam salah satu wawancaranya saat peluncuran film tersebut.
Proses Hukum yang Penuh Luka
Para tokoh dalam film, termasuk Mutiari dan rekan-rekannya, harus menjalani proses pengadilan yang tidak adil. Mereka dipaksa mengakui perbuatan yang tidak mereka lakukan akibat siksaan yang tiada henti.
Akhirnya, Mahkamah Agung memutuskan pembebasan mereka karena minimnya bukti dan kesalahan prosedural. Namun, pelaku sesungguhnya di balik kematian Marsinah tak pernah terungkap hingga kini.
Film ini menyoroti betapa rapuhnya hukum di hadapan kekuasaan, sekaligus menjadi kritik sosial terhadap sistem yang gagal melindungi warganya sendiri.
Daftar Pemeran Film “Marsinah: Cry Justice”
Berikut para pemeran yang turut menghidupkan kisah tragis ini di layar lebar:
- Megarita sebagai Marsinah
- Dyah Arum Retnowati sebagai Mutiari
- Liem Ardianto Lesmana sebagai Yudi Susanto
- Djoko Ali sebagai Yudi Astono
- Pritt Timothy sebagai Soewono
- Suparno sebagai Suprapto
- Handoko Surya Wijaya sebagai Bambang Wuryantoyo
- Kemal Rudianto sebagai Karyono Wongo
- Djoko Ari Purnomo sebagai Widayat
- Marwito sebagai A.S. Prayogi
- Intarti sebagai Marsini
- Tosan Wiryawan sebagai Hary Sarwono
Kehadiran mereka memperkuat nuansa dramatis film yang sarat pesan sosial dan kemanusiaan.
Prestasi dan Penghargaan Internasional
Film “Marsinah: Cry Justice” mendapatkan banyak apresiasi di dalam dan luar negeri, di antaranya:
- Slamet Rahardjo Djarot – Sutradara Terpuji, Festival Film Bandung 2003 (Menang)
- Dyah Arum – Aktris Terpuji, Festival Film Bandung 2003 (Menang)
- Berthy Lindia Ibrahim – Penata Artistik Terbaik, FFI 2004 (Piala Citra)
- Emirsyah & Gusti Randa – Film Terpuji, Festival Film Bandung 2004 (Menang)
- Slamet Rahardjo Djarot – Nominasi Sutradara & Film Terbaik, FFI 2004
- Tosan Wiryawan – Nominasi Aktor Terbaik, FFI 2004
- Megarita – Nominasi Aktris Pendukung Terbaik, FFI 2004
- Agung Bawantara, Eros Djarot, Karsono Hadi & Slamet Rahardjo – Nominasi Skenario Terbaik, FFI 2004
- Yudi Datau – Nominasi Sinematografi Terbaik, FFI 2004
- Tri Rahardjo – Nominasi Editing Terbaik, FFI 2004
Prestasi ini menunjukkan betapa kuatnya pesan dan daya sinematik film tersebut, menjadikannya karya penting dalam sejarah perfilman Indonesia.
Makna Abadi dari Sosok Marsinah
Kini, dengan gelar Pahlawan Nasional, Marsinah tidak hanya dikenang sebagai korban ketidakadilan, tetapi juga sebagai simbol keberanian perempuan Indonesia dalam memperjuangkan hak-hak buruh.
Penetapan ini menjadi pengingat bahwa perjuangan untuk keadilan sosial tidak boleh berhenti, dan suara rakyat kecil tidak boleh dibungkam oleh kekuasaan.
“Marsinah adalah lambang perjuangan rakyat tertindas. Ia bukan hanya pahlawan bagi buruh, tapi bagi seluruh bangsa,” ujar salah satu aktivis perempuan yang pernah memperjuangkan kasusnya di era 1990-an.
Kisah Marsinah tetap hidup dalam sejarah, di layar lebar, dan di hati rakyat Indonesia.
Selengkapnya baca di JurnalLugas.Com






