JurnalLugas.Com — Ketegangan diplomatik antara Beijing dan Tokyo kembali mencuat. Dalam suasana hubungan yang semakin panas, Kedutaan Besar China di Jepang mengeluarkan peringatan perjalanan terbaru bagi warganya. Peringatan itu menyebutkan situasi keamanan di Jepang disebut “memburuk”, terutama terkait laporan diskriminasi dan kekerasan terhadap warga China.
China Sebut Warganya Alami Kekerasan Tanpa Provokasi
Dalam pernyataannya, Kedubes China menyebut menerima “banyak laporan terbaru” dari ekspatriat China yang mengaku menjadi korban penghinaan hingga pemukulan secara tiba-tiba. “Kami meminta warga China meningkatkan kewaspadaan dan melindungi diri,” tulis pernyataan tersebut yang disampaikan secara singkat oleh seorang pejabat Kedubes.
Namun, klaim itu langsung dipertanyakan. Kementerian Luar Negeri Jepang merilis data kriminalitas terbaru yang justru menunjukkan narasi berbeda.
Data Jepang Bantah Klaim China
Berdasarkan data Kemlu Jepang dari Januari hingga Oktober tahun ini, terdapat:
- 7 kasus pembunuhan melibatkan warga China
- 21 kasus perampokan
Sebagai pembanding, periode yang sama tahun lalu mencatat:
- 14 pembunuhan
- 18 perampokan
- 3 kasus pembakaran
Angka tersebut justru menunjukkan bahwa jumlah kasus pembunuhan terhadap warga China lebih rendah dibanding tahun lalu. Seorang pejabat Kemlu Jepang menyebut secara singkat bahwa “tidak ada indikasi lonjakan kekerasan yang menargetkan warga asing, termasuk dari China.”
Lonjakan Laporan Diskriminasi Jadi Kekhawatiran Beijing
Meski data kriminalitas diperdebatkan, Kedubes China mengklaim permintaan bantuan dari warganya terkait diskriminasi di Jepang “meningkat tajam, terutama di bulan November.”
Kedubes juga menyoroti data Badan Kepolisian Nasional Jepang yang menunjukkan kenaikan jumlah kasus kriminal secara keseluruhan dari sekitar 568.000 kasus pada 2021 menjadi 738.000 kasus pada 2024.
China Minta Jepang Jamin Keamanan Warganya
Dalam konferensi pers Rabu lalu, juru bicara Kemlu China, Mao Ning, mendesak Tokyo menjamin keamanan warganya. Ia menyinggung maraknya “retorika ekstrem dan bernada ancaman terhadap China di internet Jepang.”
Mao Ning juga menyebut adanya pelecehan yang dialami perwakilan diplomatik China di Jepang, baik secara daring maupun secara langsung. “Upaya provokasi kelompok sayap kanan semakin sering,” katanya secara singkat.
Media Sosial China Serukan Hindari Perjalanan ke Jepang
Setelah peringatan perjalanan tersebut diterbitkan, banyak warganet China menyerukan agar masyarakat menunda perjalanan ke Jepang demi “menghindari masalah bagi negara.”
Seruan ini bukan satu-satunya. Pada 16 November lalu, pemerintah China bahkan meminta para pelajar mempertimbangkan ulang rencana melanjutkan studi di Jepang dengan alasan keamanan.
Pemicu Ketegangan: Pernyataan PM Jepang soal Taiwan
Analisis menunjukkan ketegangan terbaru dipengaruhi oleh pernyataan Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi di parlemen awal November. Ia mengatakan bahwa potensi keadaan darurat di Taiwan akibat tindakan militer China dapat menjadi “situasi yang mengancam kelangsungan hidup” bagi Jepang — sebuah kondisi yang memungkinkan Tokyo menjalankan hak bela diri kolektif.
Pernyataan tersebut dianggap Beijing sebagai bentuk campur tangan Jepang dalam isu yang mereka anggap urusan internal.
Hubungan China–Jepang Kian Rawan
Dengan saling balas pernyataan, meningkatnya sentimen anti-China di Jepang, serta kekhawatiran Beijing terhadap keamanan warganya, hubungan kedua negara semakin rentan.
Pengamat hubungan internasional menyebut eskalasi ini bisa terus berlanjut jika kedua pihak tidak membuka ruang dialog yang lebih konstruktif.
Kunjungi: https://JurnalLugas.Com






