JurnalLugas.Com — PT Singaraja Putra Tbk (SINI) menegaskan optimisme mereka untuk mengembalikan ekuitas yang masih berada di zona negatif. Kepercayaan diri tersebut muncul setelah dua anak usaha tambang batu bara milik perusahaan resmi mulai beroperasi dan mencatat penjualan perdana pada November 2025.
Direktur Utama SINI, A. Antolis, menyampaikan bahwa aktivitas penambangan di dua entitas, yakni PT Pasir Bara Prima dan PT Persada Kapuas Prima, kini berjalan stabil. Keduanya berada di bawah pengelolaan PT Dwi Daya Swakarya dan disebut menjadi motor pemulihan keuangan perusahaan.
“Dengan produksi yang sudah berjalan, kami menargetkan ekuitas negatif dapat kembali pulih menjadi positif,” ujar A. Antolis dalam paparan publik pada Kamis (27/11/2025).
Kondisi Keuangan: Ekuitas Turun, Rugi Bersih Menguat
Dalam laporan keuangan hingga September 2025, ekuitas SINI tercatat minus sekitar Rp687 miliar, melemah lebih dari 6% dibanding posisi akhir 2024. Aset perusahaan berada di kisaran Rp1,36 triliun, sedangkan liabilitas mencapai sekitar Rp2,04 triliun.
Dari sisi kinerja operasional, pendapatan SINI sepanjang Januari–September 2025 turun ke level Rp287 miliar. Tekanan terutama berasal dari penurunan penjualan produk kayu dan batu bara yang sebelumnya menjadi kontributor utama. Rugi bersih yang dibebankan kepada pemilik entitas induk tercatat sekitar Rp38 miliar.
Penurunan pendapatan dan tingginya beban kewajiban membuat posisi ekuitas perusahaan semakin tertekan sepanjang tahun.
Produksi Batu Bara Mulai Stabil, Stok Menumpuk di Dua Lokasi
Manajemen memastikan bahwa dua anak usaha tambang sekarang menjadi fokus utama strategi pemulihan. Proses produksi sudah berjalan dan perseroan mencatat stok batu bara yang siap dijual.
Di PT Pasir Bara Prima, stok batu bara mencapai sekitar 7.000 ton, sedangkan di PT Persada Kapuas Prima mencapai 15.000 ton. Keduanya berasal dari proses produksi rutin yang mulai meningkat sejak kuartal IV tahun ini.
Perusahaan juga telah mengajukan Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) terbaru untuk tahun berjalan, termasuk target produksi batu bara 2026 yang disusun secara realistis mengikuti tren pasar.
Strategi Pemulihan: Fokus Tambang dan Efisiensi Beban
Manajemen menyampaikan bahwa upaya pemulihan kinerja keuangan tidak hanya bergantung pada kenaikan produksi batu bara, tetapi juga konsolidasi biaya operasional dan manajemen liabilitas.
Beberapa langkah yang sedang dijalankan antara lain:
- Optimalisasi produksi agar dapat mencapai skala ekonomis
- Efisiensi biaya operasional di seluruh lini usaha
- Penyesuaian strategi pemasaran batu bara mengikuti permintaan domestik dan global
- Penguatan arus kas dari aktivitas penjualan rutin
Jika strategi ini berjalan efektif, SINI menargetkan arus kas perusahaan dapat kembali stabil dan memperbaiki posisi permodalan dalam beberapa periode laporan keuangan mendatang.
Prospek: Pulih atau Tidaknya Ekuitas Ditentukan oleh Produksi Batu Bara
Meski perusahaan menyatakan optimisme, pemulihan ekuitas tetap menghadapi tantangan. Fluktuasi harga batu bara global, aturan Domestic Market Obligation (DMO), dan tingginya beban liabilitas menjadi faktor penentu keberhasilan.
Namun, manajemen yakin bahwa kinerja dua anak usaha tambang akan menjadi katalis utama yang mampu memperbaiki neraca perusahaan, asalkan produksi dan penjualan dapat berjalan konsisten.
Untuk informasi ekonomi, bisnis, dan korporasi terupdate, kunjungi:
JurnalLugas.Com






