JurnalLugas.Com — Bank Indonesia (BI) mencatat terjadinya aliran modal asing keluar bersih dari pasar keuangan domestik sebesar Rp7,71 triliun pada pekan kedua Januari 2026. Data tersebut dihimpun dari periode transaksi 12–14 Januari 2026 dan mencerminkan dinamika global yang masih memengaruhi pergerakan investor asing.
Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI, Ramdan Denny Prakoso, menjelaskan bahwa tekanan utama berasal dari pasar obligasi. Investor asing tercatat melakukan aksi jual bersih di pasar Surat Berharga Negara (SBN) senilai Rp8,15 triliun serta pada instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) sebesar Rp2,64 triliun.
Di sisi lain, pasar saham justru menunjukkan sinyal positif. Aliran modal asing masuk bersih tercatat mencapai Rp3,08 triliun. Namun secara agregat, kombinasi ketiga instrumen tersebut tetap menghasilkan arus keluar bersih sebesar Rp7,71 triliun dari pasar keuangan nasional.
Meski demikian, kinerja sejak awal tahun masih relatif seimbang. Hingga 14 Januari 2026, investor asing membukukan arus masuk bersih di SRBI sebesar Rp5,33 triliun dan di pasar saham Rp6,16 triliun. Sementara itu, pasar SBN mencatat arus keluar bersih Rp9,91 triliun.
Dari sisi risiko investasi, premi credit default swaps (CDS) Indonesia tenor lima tahun terpantau meningkat. CDS naik dari 69,31 basis poin pada 9 Januari 2026 menjadi 71,43 basis poin per 14 Januari 2026, mencerminkan penyesuaian persepsi risiko di tengah ketidakpastian global.
Pergerakan nilai tukar rupiah menunjukkan stabilitas. Pada Kamis (15/1/2026), rupiah dibuka menguat tipis di level Rp16.840 per dolar AS, membaik dibandingkan penutupan sehari sebelumnya di Rp16.855 per dolar AS. Penguatan ini sejalan dengan pelemahan indeks dolar AS (DXY) yang turun ke level 99,06.
DXY sendiri merupakan indikator kekuatan dolar AS terhadap enam mata uang utama dunia, yakni euro, yen Jepang, pound sterling Inggris, dolar Kanada, krona Swedia, dan franc Swiss. Pelemahan dolar AS memberikan ruang bagi mata uang negara berkembang, termasuk rupiah, untuk bergerak lebih stabil.
Di pasar obligasi, imbal hasil SBN tenor 10 tahun tercatat naik ke level 6,23 persen, sedikit lebih tinggi dibandingkan posisi Rabu (14/1/2026) di 6,21 persen. Sebaliknya, yield US Treasury Note 10 tahun justru turun ke level 4,132 persen pada akhir perdagangan Rabu.
Menanggapi perkembangan tersebut, BI menegaskan komitmennya dalam menjaga stabilitas makroekonomi. “Bank Indonesia terus memperkuat koordinasi dengan pemerintah dan otoritas terkait serta mengoptimalkan strategi bauran kebijakan untuk mendukung ketahanan eksternal ekonomi Indonesia,” ujar Ramdan di Jakarta, Kamis (15/1/2026).
Dengan langkah kebijakan yang terukur dan sinergi antarlembaga, BI optimistis stabilitas pasar keuangan nasional tetap terjaga di tengah volatilitas global yang masih berlanjut.
Baca berita ekonomi terkini lainnya di: https://JurnalLugas.Com






