Selat Hormuz Ditutup, Harga Minyak Berpotensi Tembus USD100 per Barel, Ini Dampaknya

JurnalLugas.Com — Ketegangan geopolitik di Timur Tengah kembali mengguncang pasar energi global. Penutupan Selat Hormuz memicu kekhawatiran serius terhadap kelangsungan distribusi minyak mentah dunia. Jalur laut sempit ini selama puluhan tahun dikenal sebagai arteri vital perdagangan energi internasional, dengan sekitar seperlima pasokan minyak global melintas setiap harinya.

Langkah penghentian lalu lintas tanker di kawasan tersebut langsung memantik lonjakan harga minyak di pasar internasional. Pelaku pasar merespons risiko terganggunya suplai dengan aksi beli besar-besaran, mendorong harga mendekati level psikologis baru. Sejumlah analis bahkan memperkirakan harga minyak mentah bisa menembus USD100 per barel apabila situasi tidak segera mereda.

Bacaan Lainnya

Jalur Vital Energi Dunia Terancam

Selat Hormuz menjadi penghubung utama antara Teluk Persia dan Laut Arab. Negara-negara produsen utama seperti Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Kuwait, Irak, hingga Iran sangat bergantung pada jalur ini untuk mengekspor minyak mereka ke Asia, Eropa, dan Amerika.

Gangguan pada jalur tersebut berarti risiko nyata terhadap pasokan harian jutaan barel minyak. Meski tersedia jalur pipa alternatif di daratan, kapasitasnya dinilai belum mampu sepenuhnya menggantikan distribusi laut melalui Hormuz.

Baca Juga  Meski Minyak Dunia Naik, Pemerintah Janji BBM Subsidi Tetap Aman

Seorang analis energi global menilai, “Setiap gangguan di Selat Hormuz langsung menciptakan premi risiko besar pada harga minyak. Pasar selalu bereaksi cepat karena dampaknya sistemik.”

Proyeksi Harga, Menuju Tiga Digit?

Lembaga riset dan perbankan investasi internasional mulai mengeluarkan proyeksi terbaru. Analis dari RBC Capital Markets menyebutkan bahwa jika gangguan berlangsung lebih dari beberapa minggu, harga minyak sangat mungkin menembus level USD100 per barel. Sementara itu, analis dari Barclays menilai volatilitas akan tetap tinggi selama ketidakpastian geopolitik belum menemukan titik terang.

Pandangan serupa juga disampaikan oleh firma konsultan energi Rystad Energy. Dalam analisanya, risiko pasokan jangka pendek bisa mendorong harga ke kisaran USD90 hingga di atas USD100 per barel, terutama jika terjadi eskalasi konflik lanjutan atau pembatasan ekspor dari negara produsen utama.

Inflasi dan Stabilitas Ekonomi

Lonjakan harga minyak bukan sekadar isu komoditas, tetapi juga berdampak luas terhadap inflasi global, biaya logistik, hingga kebijakan suku bunga bank sentral. Negara-negara importir energi di Asia diperkirakan menjadi pihak paling terdampak karena ketergantungan tinggi terhadap pasokan Timur Tengah.

Baca Juga  Rudal Haj Qassem Iran Siap Hancurkan Israel Jangkauan 1.400 Km dan Ledakan Dahsyat

Kenaikan harga bahan bakar berpotensi meningkatkan biaya produksi dan transportasi, yang pada akhirnya menekan daya beli masyarakat. Di sisi lain, negara pengekspor minyak berpotensi menikmati lonjakan pendapatan meski tetap dibayangi risiko geopolitik.

Ketidakpastian Masih Membayangi

Hingga kini, pelaku pasar masih mencermati perkembangan diplomatik dan militer di kawasan. Setiap sinyal de-eskalasi dapat meredakan tekanan harga, namun setiap peningkatan ketegangan berpotensi memicu reli lanjutan.

Pasar energi global kini berada dalam fase sensitif, di mana sentimen geopolitik memainkan peran dominan dibandingkan faktor fundamental permintaan dan produksi. Selama jalur strategis ini belum sepenuhnya aman, harga minyak diperkirakan akan tetap berada dalam tekanan volatilitas tinggi.

Untuk membaca analisis mendalam lainnya seputar ekonomi, energi, dan geopolitik global, kunjungi JurnalLugas.Com.

(HD)

Tombol Google News - JurnalLugas

Pos terkait