JurnalLugas.Com — Langkah proteksionis kembali menguat di Amerika Serikat. Seorang senator dari Partai Republik, Bernie Moreno, mengumumkan tengah menyiapkan rancangan undang-undang (RUU) yang akan memperketat bahkan berpotensi menutup akses kendaraan asal China ke pasar otomotif Negeri Paman Sam.
Pernyataan itu disampaikan Moreno dalam forum industri menjelang New York Auto Show, sebuah panggung strategis bagi pelaku otomotif global. Dalam forum tersebut, ia menegaskan sikap kerasnya: tidak ada ruang kompromi bagi mobil buatan China untuk masuk ke pasar domestik AS.
Kekhawatiran Keamanan Jadi Pemicu
Dorongan regulasi ini bukan semata soal ekonomi, tetapi juga menyangkut isu keamanan nasional. Pemerintah AS melihat kendaraan modern yang kini sarat teknologi digital berpotensi menjadi celah pengumpulan data sensitif.
RUU yang disusun tidak hanya menyasar kendaraan fisik, tetapi juga ekosistem pendukungnya, mulai dari perangkat lunak, perangkat keras, hingga kemitraan teknologi yang melibatkan perusahaan China.
Kebijakan ini disebut sebagai kelanjutan dari langkah sebelumnya di era Joe Biden, yang telah memperketat pengawasan terhadap teknologi asing sejak awal 2025.
Moreno bahkan mengibaratkan masuknya produk China sebagai ancaman serius yang harus dicegah sejak awal. Dalam pernyataannya, ia menegaskan pentingnya “perlindungan total” terhadap infrastruktur dan industri strategis AS.
Sorotan pada Kolaborasi Global
Tak hanya menyasar produsen China, Moreno juga mengkritik perusahaan teknologi AS yang menjalin kemitraan dengan pihak China. Salah satu yang disorot adalah Waymo, unit kendaraan otonom milik Alphabet Inc..
Kemitraan Waymo dengan Geely induk dari Zeekr dinilai bertentangan dengan ambisi kepemimpinan teknologi AS. Kritik ini mencerminkan kekhawatiran bahwa kolaborasi lintas negara bisa membuka celah dominasi teknologi asing di sektor strategis.
Tekanan ke Sekutu Internasional
Langkah Washington tak berhenti di dalam negeri. Moreno secara terbuka mendorong negara-negara sekutu untuk mengikuti standar yang sama. Ia menyebut kawasan seperti Amerika Latin, Meksiko, Kanada, hingga Eropa sebagai mitra yang diharapkan sejalan dalam kebijakan pembatasan produk otomotif China.
Jika dorongan ini diikuti, maka bukan tidak mungkin pasar global akan terbelah menjadi blok-blok regulasi yang saling bersaing.
Industri Dalam Negeri Beri Dukungan
RUU tersebut mendapat sambutan positif dari produsen otomotif AS dan kelompok perdagangan. Mereka menilai pembatasan ini sebagai langkah strategis untuk menjaga daya saing industri lokal sekaligus melindungi pasar domestik dari tekanan produk impor berbiaya rendah.
Sejumlah organisasi perdagangan bahkan telah lebih dulu mendesak pemerintah untuk mempertahankan kebijakan ketat terhadap produsen China, dengan alasan perlindungan industri dan keamanan jangka panjang.
Arah Baru Persaingan Global
Jika RUU ini disahkan, dampaknya tidak hanya terasa di AS, tetapi juga di rantai pasok global industri otomotif. Produsen China bisa kehilangan salah satu pasar paling strategis, sementara negara lain dipaksa menentukan posisi dalam peta persaingan baru.
Di tengah percepatan elektrifikasi dan kendaraan otonom, kebijakan ini menjadi sinyal kuat bahwa persaingan teknologi kini tidak lagi sekadar soal inovasi melainkan juga geopolitik.
Baca analisis mendalam lainnya di JurnalLugas.Com
(CT)






