Intelijen AS Ungkap Iran Masih Simpan Ribuan Drone dan Rudal Canggih

JurnalLugas.Com — Laporan terbaru dari sejumlah media Amerika Serikat membuka fakta yang belum banyak terungkap: kekuatan militer Iran ternyata masih jauh dari kata melemah, meski telah digempur serangan selama lebih dari sebulan terakhir.

Berdasarkan penilaian intelijen yang dikutip dari sumber internal, Iran masih menyimpan sekitar setengah dari total peluncur rudalnya. Tidak hanya itu, ribuan drone serang satu arah juga dilaporkan tetap tersimpan dalam gudang persenjataan mereka.

Bacaan Lainnya

Seorang sumber yang mengetahui laporan tersebut menyebut, kapasitas tempur Iran masih berada pada level berbahaya. Ia menegaskan, kemampuan destruktif negara itu belum mengalami penurunan signifikan. “Mereka tetap siap melancarkan serangan besar kapan saja di kawasan,” ujarnya singkat.

Temuan ini memperkuat kekhawatiran baru terkait stabilitas Timur Tengah, terutama di jalur strategis Selat Hormuz. Kawasan tersebut dikenal sebagai salah satu jalur distribusi energi paling vital di dunia. Intelijen menilai Iran masih memiliki stok rudal balistik dan rudal jelajah pertahanan pesisir dalam jumlah besar—senjata kunci untuk mengendalikan akses laut tersebut.

Baca Juga  Rencana Gila Pentagon Angkut Uranium Iran Terungkap, Trump Diadang Risiko Besar

Di sisi lain, meski sebagian armada laut Iran telah mengalami kerusakan akibat serangan sebelumnya, kekuatan laut mereka belum sepenuhnya lumpuh. Unit angkatan laut yang berada di bawah Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) dilaporkan masih mempertahankan sebagian besar kapabilitasnya.

Sumber yang sama mengungkapkan bahwa Iran masih memiliki ratusan hingga ribuan kapal kecil, termasuk kapal permukaan tanpa awak. Armada ini dinilai cukup efektif untuk menjalankan taktik perang asimetris di perairan sempit seperti Teluk Persia.

Keunggulan lain yang membuat Iran tetap sulit dilemahkan adalah penggunaan fasilitas bawah tanah. Selama bertahun-tahun, negara tersebut membangun jaringan terowongan dan gua untuk menyembunyikan peluncur rudal mereka. Strategi ini terbukti menyulitkan serangan presisi dari pihak lawan.

Di tengah situasi ini, pernyataan Donald Trump yang menyebut operasi militer dapat diselesaikan dalam waktu dua hingga tiga pekan dinilai terlalu optimistis. Seorang analis yang turut menelaah laporan intelijen menyebut estimasi tersebut tidak realistis mengingat kompleksitas medan dan kekuatan tersembunyi Iran.

Baca Juga  Pete Hegseth, Operasi Militer AS-Israel ke Iran Masih Berlanjut

Sementara itu, tekanan militer masih terus berlangsung. Israel bersama sekutu-sekutu Amerika Serikat di kawasan Teluk, serta pasukan AS sendiri, masih menghadapi gelombang serangan rudal dan drone dari Iran secara berkala.

Situasi ini menandakan bahwa konflik belum mendekati akhir. Dengan cadangan senjata yang masih besar serta strategi pertahanan yang adaptif, Iran tetap menjadi aktor kunci yang sulit diprediksi dalam dinamika geopolitik kawasan.

Ketegangan yang terus berlanjut ini juga berpotensi memicu dampak global, terutama terhadap harga energi dan stabilitas ekonomi internasional. Dunia kini menanti, apakah eskalasi akan mereda atau justru memasuki fase yang lebih berbahaya.

Baca selengkapnya di: https://JurnalLugas.Com

(HD)

Tombol Google News - JurnalLugas

Pos terkait