Polisi Bongkar Peredaran Narkoba di N Co Living by NIX Klub Malam Elite Bali, 14 Pengunjung Positif

Bareskrim Polri
Bareskrim Polri

JurnalLugas.Com — Operasi senyap aparat akhirnya membuka tabir gelap di balik gemerlap hiburan malam Bali. Tim gabungan dari Subdit IV Direktorat Tindak Pidana Narkoba Bareskrim Polri bersama Satgas NIC mengungkap praktik peredaran narkotika yang terstruktur di klub malam N Co Living by NIX.

Pengungkapan ini bukan sekadar penangkapan biasa. Aparat menemukan pola distribusi yang rapi, melibatkan jaringan internal hingga sistem pembagian keuntungan yang menyentuh banyak lini pekerja di dalam tempat hiburan tersebut.

Bacaan Lainnya

Direktur Tindak Pidana Narkoba Bareskrim Polri, Brigjen Pol. Eko Hadi Santoso, mengungkapkan bahwa aktivitas ilegal ini telah berlangsung sejak pertengahan 2025.

“Peredaran dimulai dari pertemuan sejumlah pihak internal dan pemasok, lalu berkembang menjadi sistem distribusi rutin,” ujarnya.

Modus Rapi Dari Room Karaoke hingga Tangan Pengunjung

Dalam penggerebekan, polisi mengamankan tiga orang yang memiliki peran kunci. Mereka adalah manajer klub berinisial SW, pengedar lapangan NGR alias Ajik, serta seorang kapten yang bertugas sebagai penghubung transaksi dengan tamu.

Dari hasil penyelidikan, NGR diketahui menjalankan peran unik bukan sekadar pengedar, tetapi juga beroperasi layaknya “apoteker” yang mengantar narkotika langsung ke room karaoke.

Setiap transaksi memiliki tarif tersendiri. Ekstasi dihargai dengan komisi Rp100 ribu per butir, sementara ketamin memberikan keuntungan lebih besar, mencapai Rp200 ribu per paket kecil.

Pembayaran dilakukan secara tunai tanpa sistem gaji tetap. Skema ini membuat peredaran berjalan fleksibel sekaligus sulit terdeteksi dalam struktur formal perusahaan.

Peran DPO dan Sistem Shift yang Terkelola

NGR tidak bekerja sendiri. Ia beroperasi bersama seorang pemasok berinisial Desu yang kini masuk dalam daftar pencarian orang (DPO).

Keduanya menjalankan sistem kerja berbasis shift. Setiap pergantian jadwal diawali dengan penghitungan stok narkotika di salah satu room, kemudian dilanjutkan dengan distribusi kepada pelanggan.

Setelah shift berakhir, sisa barang dan hasil penjualan diserahkan kembali kepada pemasok. Pola ini menunjukkan adanya manajemen logistik yang tertata, meski ilegal.

Manajemen Tahu, Sempat Hentikan Lalu Jalan Lagi

Fakta yang paling mencolok adalah keterlibatan pihak manajemen. SW, selaku manajer, disebut mengetahui aktivitas tersebut sejak awal.

Bahkan, setelah adanya penggerebekan di klub malam lain di Bali pada Maret 2026, aktivitas sempat dihentikan sementara.

“Penjualan dihentikan sesaat untuk melihat situasi. Setelah dianggap aman, aktivitas kembali berjalan,” ungkap sumber penyidik.

Langkah ini menunjukkan adanya upaya mitigasi risiko yang dilakukan secara sadar oleh pengelola.

Aliran Uang Dari Narkoba ke Sembako Karyawan

Peredaran narkotika ini menghasilkan keuntungan besar. SW disebut menerima setoran antara Rp20 juta hingga Rp50 juta dari pemasok.

Menariknya, sebagian dana tersebut dialihkan ke pembagian sembako bagi sekitar 50 karyawan. Paket bantuan berisi kebutuhan pokok seperti beras, minyak goreng, dan mi instan.

Selain itu, terdapat juga distribusi uang ke sejumlah posisi strategis seperti leader housekeeping, bar, teknisi, hingga bagian operasional lainnya, dengan nominal antara Rp1,5 juta hingga Rp2,5 juta.

Skema ini diduga menjadi cara untuk menjaga loyalitas sekaligus menutup praktik ilegal yang berlangsung di dalam.

14 Pengunjung Positif Narkoba

Dalam penggerebekan tersebut, aparat juga menemukan 14 pengunjung yang terbukti menggunakan narkotika. Mereka terdiri dari delapan pria dan enam perempuan.

Seluruhnya dinyatakan positif berdasarkan hasil tes urine di lokasi.

Penemuan ini memperkuat dugaan bahwa klub malam tersebut bukan hanya tempat transaksi, tetapi juga menjadi lokasi konsumsi aktif.

Kasus ini menjadi sinyal kuat bahwa aparat tengah memperluas fokus penindakan, tidak hanya pada pengedar jalanan tetapi juga ekosistem hiburan malam yang menjadi titik distribusi.

Penyidik memastikan pengembangan kasus masih terus dilakukan, termasuk memburu pemasok utama yang kini buron.

Pengungkapan ini sekaligus menjadi peringatan bahwa praktik ilegal yang terorganisir, meski terselubung rapi, tetap memiliki celah untuk dibongkar.

Baca berita eksklusif lainnya di JurnalLugas.Com

(BW)

Tombol Google News - JurnalLugas
Baca Juga  Prabowo Tegas Perangi Narkoba, Pemerintah Siapkan Regulasi Baru dan Langkah Lintas Sektor

Pos terkait