JurnalLugas.Com — Program Koperasi Desa (Kopdes) Merah Putih mulai menunjukkan arah sebagai penggerak ekonomi baru di pedesaan. Pemerintah melalui Kementerian Koperasi menargetkan koperasi berbasis desa ini tidak hanya menjadi wadah usaha, tetapi juga pusat distribusi dan penguatan ekonomi rakyat.
Wakil Menteri Koperasi, Farida Farichah, menegaskan bahwa Kopdes Merah Putih dirancang untuk membuka akses ekonomi yang lebih luas bagi masyarakat desa. Menurutnya, potensi desa yang selama ini belum tergarap optimal kini mulai diorganisasi secara sistematis melalui koperasi.
“Desa memiliki sumber daya yang melimpah. Melalui Kopdes Merah Putih, masyarakat diberi ruang untuk mandiri dan berdaulat mengelola potensi ekonomi mereka sendiri,” ujarnya saat menghadiri Musyawarah Cabang PKB di Lebak.
Infrastruktur Dikebut, Ribuan Koperasi Siap Beroperasi
Implementasi program ini berjalan seiring dengan Instruksi Presiden yang mendorong percepatan pembangunan koperasi desa. Pemerintah menggandeng PT Agrinas Pangan Nusantara (Persero) untuk membangun infrastruktur penunjang, mulai dari gerai koperasi, gudang logistik, hingga kendaraan distribusi.
Dari total sekitar 83 ribu Koperasi Desa dan Kelurahan Merah Putih (KDKMP) yang telah berbadan hukum, sekitar 34 ribu hingga 35 ribu unit kini tengah dalam tahap pembangunan fisik. Progresnya bervariasi, mulai dari 20 persen hingga 70 persen.
Data terakhir menunjukkan sekitar 3.000 unit koperasi telah rampung 100 persen dan siap masuk tahap operasional. Tahap berikutnya meliputi pengisian barang dagangan, penataan manajemen, hingga perekrutan tenaga kerja lokal.
“Setelah pembangunan selesai, fokus kita adalah operasionalisasi. Ini mencakup distribusi barang, penguatan SDM, hingga memperluas keanggotaan koperasi,” jelas Farida.
UMKM Desa Mulai Terkoneksi Pasar Nasional
Di tingkat desa, dampak awal program ini mulai terasa. Salah satunya di Desa Pondok Panjang, Kecamatan Cihara, Kabupaten Lebak. Manajer koperasi setempat, Aep Saepudin, menyebutkan koperasi yang dikelolanya telah menghimpun 294 anggota, mayoritas pelaku UMKM.
Produk yang dihasilkan pun beragam, mulai dari emping kaceprek, gula aren, sale pisang, hingga bakso ikan. Ketersediaan bahan baku lokal menjadi keunggulan utama yang memperkuat daya saing produk desa.
Yang menarik, produksi gula aren dari wilayah tersebut telah menembus pasar luar daerah, termasuk Jawa Timur. Dengan kapasitas produksi mencapai 10 ton per bulan dan harga rata-rata Rp40 ribu per kilogram, perputaran uang bisa mencapai Rp400 juta setiap bulannya.
“Ini bukti bahwa desa mampu menjadi pusat produksi. Kopdes membantu kami mengelola distribusi dan memperluas pasar,” ujar Aep.
Strategi Tekan Kemiskinan Ekstrem
Program Kopdes Merah Putih juga diarahkan sebagai instrumen pengentasan kemiskinan ekstrem. Dengan model koperasi yang berbasis anggota, keuntungan usaha diharapkan berputar langsung di masyarakat desa.
Pemerintah menilai pendekatan ini lebih berkelanjutan dibanding bantuan langsung, karena mendorong produktivitas dan kemandirian ekonomi warga.
Jika seluruh unit koperasi dapat beroperasi optimal, Kopdes Merah Putih berpotensi menjadi jaringan ekonomi desa terbesar di Indonesia, sekaligus memperkuat ketahanan ekonomi nasional dari level paling bawah.
“Kami optimistis koperasi desa ini tidak hanya menggerakkan ekonomi, tetapi juga mengurangi ketimpangan dan kemiskinan,” tutup Aep.
Baca selengkapnya di: https://jurnalluguas.com
(SF)






