JurnalLugas.Com – Pemerintah mulai memperketat perhatian terhadap pergerakan harga pestisida di tengah tekanan global dan ancaman kekeringan akibat fenomena El Nino. Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menegaskan, stabilitas harga input pertanian menjadi kunci agar petani tetap mampu bertahan dan menjaga produktivitas nasional.
Dalam pernyataannya di Jakarta, Selasa (7/4/2026), Amran mengingatkan pelaku usaha pestisida untuk tidak mengambil keuntungan berlebihan di tengah kondisi yang menuntut solidaritas sektor industri terhadap petani. Ia menilai, momentum ini bukan sekadar soal bisnis, tetapi juga tanggung jawab bersama menjaga ketahanan pangan.
“Kita semua harus punya kepedulian. Boleh mencari untung, tapi jangan sampai memberatkan petani,” ujarnya.
Menurut Amran, dibandingkan dengan komponen lain seperti pupuk, kebutuhan pestisida dalam produksi pertanian relatif lebih kecil. Namun, lonjakan harga yang tidak terkendali tetap berpotensi memicu kenaikan biaya produksi secara keseluruhan dan mengganggu keseimbangan usaha tani.
Ia menyoroti potensi kenaikan harga yang bisa mencapai 20 hingga 30 persen sebagai ancaman serius. Angka tersebut dinilai terlalu tinggi dan berisiko menekan margin keuntungan petani, terutama di tengah ketidakpastian iklim dan fluktuasi pasar global.
Sebagai solusi, pemerintah mendorong kenaikan harga tetap berada dalam batas wajar, yakni sekitar 5 hingga 10 persen. Skema ini dinilai cukup untuk menjaga keberlangsungan bisnis pelaku usaha tanpa mengorbankan daya beli petani.
Amran juga memberi sinyal tegas bahwa pemerintah memiliki kapasitas intervensi jika diperlukan. Ia menyebut adanya kemampuan teknis dan sumber daya untuk memproduksi pestisida sebagai langkah pengendalian apabila pasar tidak berjalan sehat.
Di sisi lain, pemerintah tidak hanya mengandalkan imbauan. Sejumlah langkah antisipatif telah disiapkan, termasuk dukungan langsung penyediaan pestisida bagi petani di wilayah rawan. Langkah ini dilakukan untuk memastikan kebutuhan tetap terpenuhi meski terjadi gangguan pasokan.
Selain itu, berbagai program pendukung seperti perbaikan irigasi, pompanisasi, serta distribusi alat dan mesin pertanian terus diperkuat. Upaya ini bertujuan menjaga stabilitas produksi di tengah tekanan perubahan iklim yang semakin tidak menentu.
Amran menambahkan, pengendalian serangan hama juga menjadi faktor penting. Jika serangan dapat ditekan, maka kebutuhan pestisida tidak akan melonjak tajam, sehingga biaya produksi tetap terkendali.
Meski demikian, ia mengingatkan bahwa perhatian utama pemerintah tetap tertuju pada pupuk sebagai faktor paling krusial dalam meningkatkan hasil panen. Stabilitas harga dan distribusi pupuk dinilai memiliki dampak jauh lebih besar terhadap produktivitas pertanian nasional.
Dengan kombinasi kebijakan pengendalian harga, dukungan input, serta penguatan infrastruktur pertanian, pemerintah optimistis sektor pertanian Indonesia tetap tangguh menghadapi tekanan global.
Langkah ini diharapkan mampu menjaga keseimbangan antara kepentingan industri dan keberlangsungan petani, sekaligus memastikan ketahanan pangan nasional tetap terjaga dalam jangka panjang.
Baca selengkapnya di JurnalLugas.Com
(SF)






