JurnalLugas.Com — Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dinilai bukan sekadar kebijakan sosial, tetapi juga berpotensi menjadi motor penggerak baru bagi perekonomian nasional. Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa, mengungkapkan bahwa program ini memiliki efek ekonomi yang cukup besar jika dijalankan secara optimal.
Dalam penjelasannya, Purbaya menyoroti potensi penciptaan lapangan kerja yang signifikan dari implementasi MBG. Ia memperkirakan program ini mampu menyerap hingga satu juta tenaga kerja di berbagai sektor yang terlibat, mulai dari produksi pangan, distribusi, hingga layanan pendukung lainnya.
Mengacu pada perhitungan berbasis Input-Output Table (I-O Table) yang dikembangkan Badan Pusat Statistik (BPS), setiap kenaikan pertumbuhan ekonomi sebesar 1 persen umumnya berkorelasi dengan penciptaan sekitar 450 ribu lapangan kerja. Dengan asumsi tersebut, dampak teoritis dari MBG bahkan bisa melampaui 2 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).
“Secara hitungan kasar, jika satu persen pertumbuhan ekonomi setara dengan sekitar 450 ribu tenaga kerja, maka penyerapan hingga satu juta tenaga kerja bisa mendorong lebih dari dua persen. Itu gambaran dari program MBG saja,” ujar Purbaya dalam keterangannya di Jakarta, Selasa (7/4/2026).
Namun demikian, ia menegaskan bahwa angka tersebut masih bersifat simulatif. Dalam praktiknya, akan terjadi dinamika pergeseran tenaga kerja dari sektor lain menuju ekosistem MBG. Faktor ini menjadi variabel pengurang yang membuat kontribusi bersih program terhadap pertumbuhan ekonomi berada di kisaran lebih dari 1 persen.
Menurutnya, pergeseran tenaga kerja tersebut merupakan hal yang wajar dalam transformasi ekonomi. Meski demikian, dampak akhirnya tetap positif karena menciptakan aktivitas ekonomi baru yang lebih terarah pada peningkatan kesejahteraan masyarakat.
Purbaya juga menekankan bahwa kunci utama dari optimalisasi dampak ekonomi MBG terletak pada implementasi yang tepat sasaran dan terintegrasi. Jika dikelola dengan baik, program ini tidak hanya meningkatkan kualitas gizi masyarakat, tetapi juga memperkuat daya beli dan menggerakkan sektor riil.
“Memang ada perpindahan tenaga kerja dari sektor lain, itu mengurangi angka teoritis. Tapi secara keseluruhan dampaknya tetap signifikan. Lebih dari satu persen itu sangat terasa jika program ini berjalan dengan baik,” katanya.
Dengan potensi tersebut, MBG menjadi salah satu kebijakan strategis yang tidak hanya berorientasi pada perlindungan sosial, tetapi juga sebagai instrumen stimulus ekonomi jangka menengah. Pemerintah diharapkan mampu menjaga konsistensi pelaksanaan agar manfaat ganda program ini benar-benar terealisasi di lapangan.
Untuk informasi ekonomi dan kebijakan terbaru lainnya, kunjungi JurnalLugas.Com.
(SF)






