JurnalLugas.Com — Insiden kekerasan yang merenggut nyawa Ketua DPD II Partai Golkar Maluku Tenggara, Agrapinus Rumatora (Nus Kei), memicu gelombang kecaman dan keprihatinan luas. Peristiwa penikaman yang terjadi di area pintu keluar Bandara Karel Sadsuitubun itu kini menjadi sorotan serius, tidak hanya di tingkat lokal tetapi juga nasional.
Ketua DPD I Partai Golkar Maluku, Umar A. Lessy, secara tegas mendesak aparat kepolisian untuk mengusut tuntas kasus tersebut. Dalam keterangannya di Ambon, ia menyebut insiden ini sebagai tindakan brutal yang tidak bisa ditoleransi dalam kehidupan demokrasi.
“Kami meminta penegak hukum bekerja cepat, profesional, dan transparan. Ini bukan hanya soal satu korban, tetapi menyangkut rasa aman masyarakat,” ujar Umar.
Menurutnya, aksi kekerasan tersebut berpotensi memicu gangguan stabilitas sosial di wilayah Maluku Tenggara. Ia menilai, jika tidak ditangani serius, kasus ini bisa berdampak luas terhadap kondusivitas daerah.
Seruan Menahan Diri dan Jaga Stabilitas
Di tengah situasi yang memanas, Golkar menginstruksikan seluruh kader dan simpatisan untuk tetap tenang. Umar menekankan pentingnya menjaga solidaritas dalam bentuk sikap dewasa, bukan reaksi emosional.
“Kami mengimbau semua pihak tidak terprovokasi. Situasi harus tetap dijaga agar tidak semakin keruh,” katanya.
Seruan ini juga ditujukan kepada tokoh masyarakat, pemuka agama, hingga elemen pemuda agar tidak menyebarkan informasi yang belum terverifikasi. Dalam era digital, menurutnya, disinformasi bisa memperparah keadaan.
Dorongan Pengungkapan Motif Pelaku
Golkar menilai pengungkapan motif di balik penikaman menjadi kunci penting dalam kasus ini. Selain menangkap pelaku, aparat diminta membuka fakta secara transparan kepada publik.
Langkah tersebut dinilai penting untuk menghindari spekulasi liar sekaligus menjaga kepercayaan masyarakat terhadap penegakan hukum.
Sebagai partai politik, Golkar Maluku menegaskan komitmennya dalam menjaga nilai demokrasi, perdamaian, dan supremasi hukum. Internal partai juga diminta tetap solid serta memperkuat komunikasi di tengah situasi krisis.
Sebelumnya, Agrapinus Rumatora diketahui berada di Maluku Tenggara dalam rangka persiapan musyawarah daerah (musda). Namun nahas, ia menjadi korban penikaman oleh orang tak dikenal di kawasan bandara. Sempat dilarikan ke rumah sakit, nyawanya tidak berhasil diselamatkan.
Peristiwa ini meninggalkan duka mendalam sekaligus tanda tanya besar bagi publik. Kini, perhatian tertuju pada langkah aparat dalam mengungkap siapa pelaku dan apa motif di balik tragedi tersebut.
Di tengah duka dan ketegangan, satu harapan mengemuka, keadilan harus ditegakkan tanpa kompromi.
Baca selengkapnya di: https://JurnalLugas.Com
(BW)






