JurnalLugas.Com – Kasus tewasnya seorang balita berusia dua tahun di wilayah Jatirangga, Kecamatan Jatisampurna, Kota Bekasi, menyita perhatian publik. Peristiwa yang terjadi di lingkungan tempat tinggal korban itu mengungkap sisi kelam kekerasan dalam lingkup keluarga yang berujung pada hilangnya nyawa anak yang masih sangat kecil.
Penyidik Polres Metro Bekasi Kota mengungkap bahwa pelaku yang merupakan kerabat dekat korban diduga melakukan tindakan fatal setelah tidak mampu mengendalikan emosinya. Dari hasil pemeriksaan awal, tersangka mengaku merasa terganggu saat sedang memainkan permainan di telepon genggamnya.
Menurut keterangan polisi, korban yang masih balita saat itu mendekati pelaku dan berinteraksi seperti anak-anak pada umumnya. Namun situasi tersebut justru memicu kemarahan yang berujung pada tindakan kekerasan.
Kasat Reskrim Polres Metro Bekasi Kota, Kompol Andi Muhammad Iqbal, menjelaskan bahwa tersangka mengaku emosinya memuncak setelah aktivitas bermain gim yang dilakukannya terganggu.
“Tersangka mengaku kesal karena merasa aktivitasnya terganggu saat bermain gim,” ujar Andi kepada wartawan, Sabtu 30 Mei 2026.
Puluhan Luka Ditemukan pada Tubuh Korban
Hasil pemeriksaan medis menunjukkan korban mengalami luka yang sangat serius. Tim medis menemukan puluhan luka akibat benda tajam di sejumlah bagian tubuh, termasuk area wajah.
Temuan tersebut menjadi salah satu bukti penting dalam proses penyidikan yang kini terus dikembangkan oleh kepolisian.
Selain motif kemarahan sesaat, penyidik juga mendalami pengakuan tersangka terkait adanya bisikan yang disebut-sebut memengaruhi pikirannya sebelum kejadian berlangsung.
Polisi masih menelusuri lebih jauh kondisi psikologis pelaku guna memastikan seluruh faktor yang melatarbelakangi tindak pidana tersebut.
Tinggal Bersama Sejak Bayi
Dari hasil penyelidikan diketahui korban telah tinggal bersama nenek dan pamannya sejak masih berusia beberapa minggu. Kehidupan sehari-hari mereka berlangsung di sebuah rumah kontrakan sederhana di kawasan Jatisampurna.
Karena sang nenek bekerja, korban kerap menghabiskan waktu berdua bersama pelaku di rumah. Dalam kondisi tertentu, anggota keluarga lain yang tinggal di lantai atas biasanya ikut membantu ketika korban menangis atau membutuhkan perhatian.
Namun pada hari kejadian, pola yang biasa terjadi itu tidak berlangsung. Polisi menemukan adanya rentang waktu cukup lama ketika korban menangis tanpa adanya komunikasi dari pelaku kepada anggota keluarga lainnya.
Fakta tersebut menjadi bagian penting yang kini masuk dalam rangkaian penyelidikan untuk mengungkap secara utuh kronologi peristiwa tragis tersebut.
Pengingat Penting tentang Pengendalian Emosi
Peristiwa ini kembali menjadi pengingat bahwa anak-anak merupakan kelompok yang sangat rentan dan membutuhkan perlindungan penuh dari lingkungan terdekatnya.
Pakar psikologi keluarga kerap menekankan pentingnya kemampuan mengelola emosi, terutama bagi orang dewasa yang memiliki tanggung jawab mengasuh anak. Ledakan emosi yang tidak terkendali dapat berujung pada konsekuensi yang tidak hanya merusak masa depan pelaku, tetapi juga menghilangkan hak hidup seorang anak.
Saat ini tersangka telah ditetapkan sebagai pelaku dan menjalani proses hukum lebih lanjut. Polisi memastikan penyidikan dilakukan secara menyeluruh untuk mengungkap seluruh aspek yang berkaitan dengan kasus tersebut.
Baca berita aktual dan laporan mendalam lainnya di JurnalLugas.Com
(Bowo)






