JurnalLugas.Com — Kabar baik datang bagi masyarakat yang sempat terbebani lonjakan harga cabai rawit beberapa bulan terakhir. Memasuki pekan pertama Mei 2026, harga cabai rawit nasional mulai menunjukkan tren penurunan seiring membaiknya pasokan dari sentra produksi hortikultura di berbagai daerah.
Pemerintah melalui Badan Pangan Nasional (Bapanas) memastikan stok cabai rawit nasional masih dalam kondisi aman hingga akhir tahun. Kondisi itu menjadi faktor utama yang membuat harga di pasar rakyat perlahan kembali stabil setelah sempat melonjak tajam menjelang Ramadan dan Lebaran 2026.
Deputi Bidang Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Bapanas, I Gusti Ketut Astawa mengatakan penurunan harga mulai terlihat karena distribusi antardaerah semakin lancar dan produksi petani mulai meningkat.
Menurutnya, rata-rata harga cabai rawit merah nasional berdasarkan pemantauan per 12 Mei 2026 kini berada di kisaran Rp63 ribuan per kilogram. Angka tersebut turun drastis dibanding periode menjelang Lebaran ketika harga sempat menembus Rp120 ribu per kilogram di sejumlah pasar tradisional.
“Kondisi pasokan sekarang relatif jauh lebih baik dibanding masa puncak permintaan saat Ramadan dan Lebaran,” ujarnya.
Panen Mulai Bertambah, Harga Cabai Berangsur Stabil
Meningkatnya produksi dari sentra hortikultura menjadi penopang utama stabilisasi harga cabai rawit. Sejumlah wilayah penghasil mulai memasuki masa panen sehingga pasokan ke pasar kembali normal.
Selain faktor panen, distribusi logistik yang lebih terkendali juga membantu mengurangi tekanan harga di daerah konsumsi. Sebelumnya, cuaca ekstrem dan serangan Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT) sempat menghambat produksi petani sehingga memicu lonjakan harga.
Meski demikian, pemerintah menilai gangguan tersebut kini mulai teratasi. Jumlah daerah yang mengalami kenaikan Indeks Perkembangan Harga (IPH) cabai rawit juga terus menurun.
Pada minggu ketiga April 2026, tercatat ada 127 kabupaten/kota mengalami tekanan harga cabai. Namun pada pekan pertama Mei, jumlahnya turun menjadi 91 daerah.
Penurunan tersebut dinilai menjadi sinyal positif bahwa pasokan cabai nasional mulai kembali seimbang dengan kebutuhan pasar.
Positif untuk Inflasi Pangan Nasional
Stabilnya harga cabai rawit turut memberikan pengaruh besar terhadap pengendalian inflasi pangan nasional. Komoditas cabai selama ini dikenal sebagai salah satu penyumbang utama inflasi karena fluktuasi harganya sangat cepat.
Bapanas menyebut penurunan harga cabai rawit saat ini membantu menjaga daya beli masyarakat sekaligus menekan kenaikan harga bahan pangan lainnya.
Meski harga masih berada di atas Harga Acuan Penjualan (HAP), tren penurunan dinilai sudah cukup signifikan dibanding beberapa bulan sebelumnya.
Pemerintah pun terus memperkuat koordinasi dengan petani dan sentra produksi guna memastikan distribusi cabai tetap berjalan lancar di seluruh wilayah Indonesia.
“Kami terus memantau pasokan bersama para penggerak hortikultura agar stok tetap tersedia dan distribusi tidak terganggu,” kata Ketut.
Stok Cabai Nasional Diproyeksi Surplus Hingga Akhir 2026
Data Proyeksi Neraca Pangan Nasional menunjukkan kondisi stok cabai rawit nasional masih berada dalam posisi aman. Produksi cabai rawit sepanjang 2026 diperkirakan mencapai 1,59 juta ton, sementara kebutuhan nasional sekitar 913,6 ribu ton.
Dari angka tersebut, pemerintah memperkirakan stok akhir tahun masih menyisakan sekitar 60,5 ribu ton.
Khusus untuk Mei 2026, ketersediaan cabai rawit diproyeksikan mencapai 168,1 ribu ton dengan kebutuhan nasional sekitar 78 ribu ton. Artinya, terdapat surplus pasokan sekitar 90,1 ribu ton yang menjadi bantalan penting menjaga stabilitas harga di pasar.
Kondisi surplus itu diperkirakan membuat harga cabai rawit semakin terkendali dalam beberapa pekan ke depan, terutama jika cuaca dan distribusi tetap kondusif.
Pemerintah optimistis tren penurunan harga cabai rawit akan terus berlanjut seiring meningkatnya produksi petani di berbagai daerah sentra hortikultura nasional.
Baca berita ekonomi dan pangan terbaru lainnya di JurnalLugas.Com
(Kardi)






