Kejar Target Cuan Ribuan Ompreng MBG Diproduksi Dini Hari, Jam 7 Pagi Sampai Di Sekolah

JurnalLugas.Com — Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang didistribusikan ke sekolah-sekolah setiap pagi kini mulai mendapat sorotan dari guru dan siswa. Di balik proses distribusi ribuan ompreng sejak malam, muncul berbagai keluhan terkait kualitas makanan yang dinilai kurang layak hingga memicu kekhawatiran soal higienitas pengolahan di dapur SPPG.

Di sejumlah sekolah, menu MBG diketahui sudah tiba sekitar pukul 07.00 WIB sebelum kegiatan belajar dimulai. Namun makanan tersebut baru dikonsumsi siswa saat jam istirahat siang sesuai jadwal sekolah.

Bacaan Lainnya

Kondisi ini memunculkan pertanyaan mengenai proses produksi makanan dalam jumlah besar yang harus selesai dalam waktu singkat setiap hari.

Dapur SPPG Diduga Mulai Beroperasi Tengah Malam

Dengan cakupan layanan lebih dari 10 sekolah, dapur SPPG diperkirakan mulai memasak sejak tengah malam hingga dini hari. Waktu tersebut digunakan untuk menyiapkan bahan, memasak ribuan porsi, melakukan pengemasan, lalu mendistribusikannya ke sekolah-sekolah sebelum pagi.

Baca Juga  Kemiskinan Masih Tinggi, Pemerintah Gaspol MBG, Penting Perut Kenyang

Produksi massal dalam waktu terbatas dinilai menjadi tantangan besar, terutama dalam menjaga kualitas rasa dan keamanan pangan. Guru dan siswa mulai mengeluhkan beberapa menu yang dianggap tidak layak konsumsi.

“Tempenya terasa pahit, ayamnya masih berdarah,” ungkap salah seorang siswa yang mengaku kecewa dengan kualitas makanan yang diterima Salah satu Sekolah Dasar di Kabupaten Batu Bara, Sumut, Senin 25 Mei 2026.

Keluhan serupa juga disampaikan sejumlah guru yang menilai pengawasan kualitas makanan perlu diperketat sebelum dibagikan kepada pelajar.

Higienitas Produksi Jadi Sorotan

Dalam standar keamanan pangan, ayam yang belum matang sempurna berpotensi membawa bakteri berbahaya seperti Salmonella. Sementara rasa pahit pada tempe dapat disebabkan kualitas bahan baku yang buruk atau proses pengolahan yang tidak tepat.

Pengolahan makanan untuk ribuan ompreng sebenarnya harus mengikuti SOP higienitas ketat, mulai dari penggunaan alat pelindung oleh petugas dapur, pemisahan bahan mentah dan matang, kebersihan peralatan, hingga pengaturan suhu makanan saat distribusi.

Baca Juga  BGN Sedot Anggaran Rp268 Triliun, Klaim MBG 93% Peningkatan Gizi Nasional

Namun ketika produksi dikejar target dalam waktu singkat, risiko penurunan kualitas makanan dinilai semakin besar apabila pengawasan tidak dilakukan secara maksimal.

Jangan Hanya Mengejar Target Produksi

Sejumlah pihak menilai program MBG tidak boleh hanya berfokus pada jumlah distribusi atau keuntungan penyedia layanan SPPG semata. Aspek kesehatan dan keselamatan siswa harus menjadi prioritas utama.

Pengawasan SOP dinilai wajib diterapkan secara ketat mulai dari pemilihan bahan baku, proses memasak, pengecekan kematangan makanan, hingga distribusi ke sekolah.

Program MBG pada dasarnya bertujuan meningkatkan asupan gizi pelajar. Karena itu, kualitas makanan yang disajikan harus benar-benar terjamin agar tidak menimbulkan masalah kesehatan baru di lingkungan sekolah.

Informasi berita lainnya dapat dibaca di JurnalLugas.Com

(Soefriyanto)

Tombol Google News - JurnalLugas

Pos terkait