JurnalLugas.Com – Di tengah hiruk-pikuk aktivitas pemerintahan di Kota Medan, sebuah pemandangan mengharukan mendadak menyita perhatian publik. Seorang ibu terlihat menangis histeris sambil bersujud di depan baliho besar Gubernur Sumatera Utara, Bobby Nasution. Aksi yang terekam video dan viral di media sosial itu bukan sekadar luapan emosi, melainkan jeritan seorang ibu yang tengah berjuang menyelamatkan nyawa anaknya.
Perempuan tersebut diketahui bernama Nurmian Sari Purba. Bersama sang suami, ia mendatangi kawasan Kantor Gubernur Sumatera Utara dengan harapan mendapatkan bantuan setelah terbebani biaya pengobatan anak mereka yang mencapai ratusan juta rupiah.
Dalam rekaman yang beredar luas, Nurmian terlihat tak kuasa menahan tangis. Ia memohon agar pemerintah membantu keluarganya yang sudah berada di titik paling sulit. Bahkan, rumah yang menjadi satu-satunya tempat tinggal keluarga itu telah digadaikan demi membayar biaya awal perawatan.
Berpacu dengan Waktu Menyelamatkan Sang Anak
Peristiwa bermula pada akhir Mei 2026 ketika anak Nurmian mengalami luka tusuk serius dan harus segera mendapatkan penanganan medis intensif. Setelah sempat dirawat di fasilitas kesehatan di Kabupaten Langkat, kondisi pasien dinilai membutuhkan tindakan spesialis yang lebih lengkap sehingga harus dirujuk ke Medan.
Di tengah kepanikan dan kekhawatiran kehilangan anak, keluarga memilih membawa pasien ke rumah sakit swasta yang dianggap mampu menangani kondisi darurat tersebut. Namun keputusan itu kemudian menjadi awal persoalan baru karena rumah sakit tujuan ternyata tidak melayani pembiayaan melalui BPJS Kesehatan.
Demi menyelamatkan nyawa buah hatinya, keluarga menyetujui tindakan medis yang diperlukan meski harus menghadapi estimasi biaya yang sangat besar. Uang puluhan juta rupiah berhasil dikumpulkan dengan cara menggadaikan rumah sebagai jaminan.
Namun setelah operasi dan perawatan berjalan, beban biaya yang terus meningkat membuat keluarga tidak lagi memiliki kemampuan finansial untuk melunasi tagihan yang tersisa.
Aksi Memohon Pertolongan yang Menggugah Publik
Keputusasaan akhirnya membawa Nurmian dan suaminya ke Medan untuk mencari jalan keluar. Mereka mendatangi lingkungan Kantor Gubernur Sumatera Utara dan berharap pesan mereka dapat sampai kepada pemerintah daerah.
Video sang ibu yang menangis, memberi hormat, lalu bersujud di depan baliho gubernur dengan cepat menyebar di berbagai platform media sosial. Banyak warganet mengaku tersentuh dan meminta pemerintah segera turun tangan membantu keluarga tersebut.
Kisah ini menjadi gambaran nyata bagaimana tekanan ekonomi dapat menghantam keluarga yang sedang menghadapi kondisi darurat kesehatan.
Pemerintah Provinsi Sumut Bergerak Cepat
Setelah informasi tersebut sampai ke jajaran Pemerintah Provinsi Sumatera Utara, langkah penanganan segera dilakukan. Gubernur Sumut Bobby Nasution memastikan pihaknya turun tangan membantu penyelesaian persoalan biaya pengobatan yang membelit keluarga Nurmian.
Menurut Bobby, pemerintah daerah tidak ingin keluarga pasien terus terbebani ketika fokus utama seharusnya tertuju pada proses penyembuhan anak yang sedang menjalani perawatan.
Dalam keterangannya, gubernur menegaskan bahwa persoalan tersebut telah ditangani sehingga keluarga tidak perlu lagi khawatir mengenai keberlanjutan pengobatan pasien.
Dugaan Kesalahan Sistem Rujukan
Di balik kasus ini, muncul temuan yang menjadi perhatian pemerintah daerah. Berdasarkan hasil penelusuran Dinas Kesehatan Sumatera Utara, terdapat indikasi persoalan pada proses rujukan awal pasien.
Pemerintah menilai pasien semestinya dapat diarahkan ke fasilitas kesehatan yang telah bekerja sama dengan BPJS dan memiliki tenaga medis spesialis yang dibutuhkan. Dengan demikian, beban biaya yang sangat besar berpotensi dapat dihindari.
Temuan tersebut kini menjadi bahan evaluasi agar kejadian serupa tidak kembali menimpa masyarakat lain yang sedang menghadapi situasi darurat medis.
Tagihan Berhasil Diringankan
Pemerintah Provinsi Sumatera Utara juga melakukan komunikasi intensif dengan pihak rumah sakit guna mencari solusi terbaik bagi keluarga pasien.
Hasilnya, total tagihan yang sebelumnya mencapai ratusan juta rupiah berhasil mendapatkan pengurangan. Langkah ini memberikan sedikit ruang napas bagi keluarga yang sebelumnya harus menggadaikan rumah demi memperoleh dana perawatan.
Meski demikian, pemerintah tetap berupaya menyelesaikan sisa kewajiban pembayaran agar keluarga pasien tidak semakin terbebani secara ekonomi.
Kasus yang dialami Nurmian menjadi pengingat bahwa pemahaman mengenai sistem rujukan dan fasilitas kesehatan yang bekerja sama dengan BPJS sangat penting diketahui masyarakat.
Pemerintah Provinsi Sumatera Utara kembali mengingatkan warga untuk memanfaatkan program layanan kesehatan yang tersedia, termasuk skema Universal Health Coverage (UHC) dan berbagai program kesehatan daerah yang telah berjalan.
Dengan memahami prosedur layanan kesehatan sejak awal, masyarakat diharapkan dapat memperoleh akses pengobatan yang tepat tanpa harus menghadapi risiko beban biaya yang berlebihan.
Kisah Nurmian Sari Purba bukan hanya tentang perjuangan seorang ibu mempertahankan hidup anaknya. Peristiwa ini juga menjadi cermin bahwa di balik angka-angka tagihan rumah sakit, terdapat keluarga yang sedang berjuang melawan rasa takut, keterbatasan ekonomi, dan harapan untuk melihat orang yang mereka cintai kembali sembuh.
Ikuti berita dan informasi terkini lainnya di JurnalLugas.Com
(Soefriyanto)






