JurnalLugas.Com – Semangat berbagi pada momentum Idul Adha 1447 Hijriah ditunjukkan Gubernur Sumatera Utara, Bobby Nasution, dengan menyalurkan 17 ekor sapi kurban kepada berbagai elemen masyarakat di Sumatera Utara. Menariknya, seluruh hewan kurban tersebut disebut berasal dari dana pribadi, bukan dari anggaran pemerintah.
Langkah Bobby menjadi perhatian publik karena dinilai berbeda dengan sebagian pejabat yang kerap menuai sorotan terkait penggunaan fasilitas maupun dana negara untuk kepentingan pencitraan kegiatan sosial dan keagamaan.
Sebanyak 17 sapi kurban dengan total bobot mencapai lebih dari 11 ton itu disebar ke sejumlah masjid, organisasi mahasiswa, komunitas relawan, hingga kelompok suporter sepak bola di Sumatera Utara.
Penyaluran dilakukan di berbagai titik, mulai dari Kota Binjai, Medan, hingga Jakarta. Beberapa penerima di antaranya Masjid Jami Hanifah, Forum Wartawan Pemprov Sumut, Rumah Kolaborasi Bobby Nasution, organisasi Cipayung Plus, hingga kelompok suporter PSMS Medan.
Dalam keterangannya usai menyaksikan penyembelihan hewan kurban di Lapangan Merdeka Binjai, Bobby menegaskan bahwa seluruh sapi dibeli langsung dari peternak lokal di sejumlah daerah Sumatera Utara.
Menurutnya, langkah tersebut bukan hanya bentuk ibadah dan kepedulian sosial, tetapi juga upaya membantu perputaran ekonomi peternak lokal menjelang Hari Raya Idul Adha.
“Alhamdulillah tahun ini masih diberikan rezeki untuk berbagi kepada masyarakat. Semoga membawa manfaat dan keberkahan,” ujar Bobby.
Ia juga berharap momentum kurban dapat memperkuat solidaritas sosial di tengah masyarakat, terutama dalam kondisi ekonomi yang masih penuh tantangan.
Selain membagikan daging kurban kepada warga, kegiatan tersebut disebut menjadi simbol penting bahwa pejabat publik masih bisa menjalankan kegiatan sosial menggunakan kemampuan pribadi tanpa membebani anggaran negara.
Pengamat sosial di Medan menilai langkah seperti ini dapat menjadi contoh etika pejabat dalam memisahkan kepentingan pribadi, ibadah, dan penggunaan uang rakyat.
“Publik saat ini semakin kritis. Ketika ada pejabat menggunakan dana pribadi untuk kegiatan sosial, tentu respons masyarakat berbeda dibanding program yang memakai anggaran negara namun dikemas sebagai bantuan personal,” ujar pengamat kebijakan publik, Rahmad Hidayat.
Perbandingan pun mulai muncul di media sosial. Sejumlah warganet menilai apa yang dilakukan Bobby Nasution berbeda dengan praktik sejumlah elite politik nasional yang kerap disorot karena menggunakan fasilitas negara atau uang rakyat dalam berbagai agenda pencitraan, termasuk kegiatan seremonial keagamaan.
Nama Presiden RI Prabowo Subianto ikut menjadi bahan perbincangan warganet setelah muncul kritik terkait penggunaan anggaran negara yang dianggap terlalu besar di tengah kebijakan efisiensi dan penghematan nasional.
Meski demikian, Bobby memilih tidak menanggapi perbandingan tersebut dan menekankan bahwa Idul Adha seharusnya menjadi momentum memperkuat kepedulian sosial dan semangat berbagi kepada masyarakat yang membutuhkan.
Ia berharap nilai pengorbanan dalam Idul Adha tidak hanya dimaknai sebatas ritual tahunan, tetapi juga diwujudkan melalui tindakan nyata membantu sesama.
“Kita ingin kebermanfaatan itu benar-benar dirasakan masyarakat,” katanya.
Kegiatan kurban Bobby Nasution tahun ini juga mendapat apresiasi dari sejumlah relawan dan organisasi mahasiswa karena dinilai menyentuh banyak kelompok masyarakat secara langsung.
Selain mempererat hubungan sosial, pembelian sapi dari peternak lokal juga dinilai membantu meningkatkan pendapatan peternak daerah menjelang hari raya kurban.
Baca berita menarik lainnya di JurnalLugas.Com
(Soefriyanto)






