JurnalLugas.Com – Perjalanan menuju puncak kepemimpinan tidak selalu diawali dengan prestasi akademik yang mulus.
Kisah Mariano Assanami Sabino Lopes menjadi bukti bahwa kegigihan menghadapi tantangan dapat mengubah masa sulit menjadi pijakan menuju tanggung jawab besar di tingkat negara.
Alumni Universitas Brawijaya (UB) angkatan 1991 itu pernah berada di titik hampir meninggalkan bangku kuliah.
Padatnya aktivitas sebagai penggerak mahasiswa Timor Leste pada masa perjuangan kemerdekaan membuat waktu belajarnya sangat terbatas.
Namun keputusan untuk tetap bertahan menyelesaikan pendidikan menjadi salah satu langkah paling penting dalam hidupnya.
Kini, puluhan tahun setelah meninggalkan kampus, Mariano dipercaya mengemban amanah sebagai Wakil Perdana Menteri Timor Leste.
Perjuangan Kuliah di Tengah Aktivitas Organisasi
Saat menempuh pendidikan di Program Studi Hama dan Penyakit Tumbuhan, Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya, Mariano menghadapi tantangan yang tidak ringan.
Hampir seluruh waktunya tersita untuk kegiatan organisasi dan perjuangan mahasiswa Timor Leste.
Kesibukan tersebut berdampak langsung pada proses akademiknya. Berbagai mata kuliah praktikum hingga penelitian membutuhkan perhatian penuh, sementara dirinya harus membagi waktu dengan aktivitas di luar kampus.
Indeks prestasi yang diperolehnya pun tidak tergolong tinggi. Bahkan penelitian skripsinya sempat mengalami hambatan sehingga membuatnya mempertimbangkan untuk mengakhiri studi lebih awal.
“Saya sempat berpikir untuk berhenti kuliah. Namun akhirnya saya menyadari bahwa pendidikan harus diselesaikan,” ungkap Mariano dalam forum alumni Universitas Brawijaya.
Dukungan Dosen Menjadi Titik Balik
Keputusan Mariano untuk bertahan tidak lepas dari peran para dosen yang memberikan pendampingan akademik sekaligus dukungan moral.
Sejumlah dosen membantunya mencari solusi ketika penelitian mengalami kendala dan terus memotivasi agar tidak menyerah meski aktivitas organisasi menyita sebagian besar waktunya.
Mariano mengaku pendekatan tersebut membuatnya mampu menyelesaikan pendidikan tanpa harus mengorbankan cita-citanya dalam memperjuangkan bangsanya.
Menurutnya, para pengajar tidak hanya berperan sebagai pemberi materi kuliah, tetapi juga pembimbing yang memahami kondisi mahasiswa secara menyeluruh.
Lingkungan Kampus yang Memberi Rasa Kekeluargaan
Sebagai mahasiswa asal Timor Leste, Mariano sempat merasa asing ketika pertama kali datang ke Malang.
Namun suasana itu berubah berkat dukungan teman-teman kuliah dan masyarakat sekitar.
Ia mengaku banyak menerima bantuan, baik dalam urusan akademik maupun kehidupan sehari-hari.
Pemilik rumah kos hingga rekan-rekan mahasiswa memberikan dukungan yang membuatnya merasa diterima sebagai bagian dari keluarga besar Universitas Brawijaya.
Pengalaman tersebut menjadi kenangan yang terus melekat hingga sekarang.
Bekal Memimpin Pemerintahan
Karier Mariano terus berkembang setelah menyelesaikan pendidikan. Sebelum dipercaya menjadi Wakil Perdana Menteri Timor Leste, ia lebih dahulu menjabat Menteri Pertanian selama lebih dari tujuh tahun serta menjadi anggota parlemen.
Menurutnya, kebiasaan mencari solusi terhadap berbagai persoalan selama menjadi mahasiswa menjadi modal penting ketika harus mengambil keputusan di pemerintahan.
Ia menilai dunia kampus mengajarkan cara berpikir yang sistematis, disiplin, serta kemampuan melihat persoalan dari berbagai sudut pandang.
“Pendidikan membentuk cara berpikir untuk menemukan berbagai alternatif solusi. Pola itu sangat berguna saat memimpin,” ujarnya.
Mariano berharap mahasiswa saat ini tidak hanya fokus mengejar nilai akademik, tetapi juga aktif dalam organisasi dan kegiatan sosial.
Ia mengingatkan bahwa teknologi memang mempermudah proses belajar, tetapi kemampuan berpikir kritis dan pembentukan karakter tetap menjadi fondasi utama pendidikan.
Menurutnya, tantangan yang dihadapi selama masa kuliah justru akan menjadi bekal berharga ketika seseorang dipercaya memimpin masyarakat maupun institusi di masa depan.
Kisah Mariano menunjukkan bahwa keberhasilan bukan ditentukan oleh perjalanan yang selalu mulus, melainkan oleh keberanian untuk bangkit saat menghadapi masa-masa sulit.
Ketekunan, dukungan lingkungan, dan komitmen menyelesaikan pendidikan menjadi modal yang akhirnya mengantarkannya menuju salah satu posisi tertinggi di pemerintahan Timor Leste.
Baca berita inspiratif, pendidikan, dan informasi terkini lainnya di JurnalLugas.Com: https://jurnallugas.com
(Catur)






