JurnalLugas.Com – PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) membuka paruh pertama tahun 2026 dengan catatan kinerja yang semakin solid.
Perusahaan teknologi terbesar di Indonesia itu berhasil membukukan laba bersih sebesar Rp607,5 miliar hingga semester I-2026, sekaligus memperpanjang tren positif setelah dua kuartal berturut-turut berhasil mencatatkan keuntungan.
Keberhasilan tersebut menjadi sinyal bahwa strategi efisiensi dan penguatan ekosistem digital yang dijalankan perseroan mulai memberikan hasil nyata.
Di tengah dinamika industri teknologi dan persaingan layanan digital yang semakin ketat, GoTo tetap mampu meningkatkan pendapatan sekaligus menjaga profitabilitas.
Sepanjang enam bulan pertama tahun ini, nilai transaksi inti atau Gross Transaction Value (GTV) Grup GoTo melonjak sekitar 75 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu hingga mencapai Rp302,02 triliun. Di saat yang sama, pendapatan bersih perusahaan juga meningkat 28 persen menjadi Rp10,99 triliun.
Direktur Utama Grup GoTo, Hans Patuwo, menyebut pencapaian tersebut menunjukkan fondasi bisnis perusahaan semakin kuat.
Menurutnya, EBITDA Grup yang disesuaikan berhasil menembus angka Rp1 triliun untuk pertama kalinya, atau meningkat lebih dari dua kali lipat dibandingkan tahun sebelumnya.
Hans mengatakan pertumbuhan tersebut tidak hanya berasal dari satu lini usaha, tetapi ditopang oleh keseimbangan seluruh ekosistem bisnis GoTo.
Ia menilai sektor layanan keuangan digital kini berkembang sangat pesat hingga mampu melampaui kontribusi profitabilitas bisnis layanan transportasi dan pesan-antar.
“Bisnis fintech kami kini menjadi kontributor profitabilitas terbesar. Ini menunjukkan kekuatan ekosistem GoTo yang semakin seimbang,” ujar Hans dalam keterangannya.
Performa tersebut terlihat jelas pada bisnis GoPay yang mencatat lonjakan EBITDA disesuaikan hingga 526 persen menjadi Rp845 miliar. Nilai transaksi inti fintech juga tumbuh sekitar 82 persen, sementara kualitas pembiayaan tetap terjaga dengan tingkat kredit bermasalah yang stabil.
Di sisi lain, unit On-Demand Services yang menaungi layanan Gojek tetap menunjukkan pertumbuhan positif. Hingga akhir Juni 2026, segmen ini membukukan EBITDA disesuaikan sebesar Rp903 miliar, meningkat 41 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Nilai transaksi inti layanan tersebut juga naik menjadi sekitar Rp33 triliun, didukung peningkatan aktivitas pelanggan dengan tingkat belanja tinggi.
GoTo juga mencatat margin bisnis layanan pengantaran mengalami kenaikan, mencerminkan efisiensi operasional yang terus membaik.
Memasuki semester kedua, GoTo menghadapi tantangan baru setelah mulai menerapkan struktur komisi terbaru untuk layanan transportasi roda dua Gojek sejak 1 Juli 2026, sesuai ketentuan Keputusan Menteri Perhubungan Nomor 532 Tahun 2026.
Perubahan kebijakan tersebut diperkirakan mulai memengaruhi laporan keuangan kuartal III-2026. Meski demikian, manajemen menegaskan dampaknya masih dapat dikelola karena kontribusi bisnis transportasi roda dua terhadap total pendapatan grup hanya sekitar tujuh persen.
Hans mengakui penyesuaian tersebut bukan hal yang mudah. Namun, perusahaan tetap optimistis mampu menjaga kinerja hingga akhir tahun melalui pertumbuhan bisnis digital lainnya, terutama sektor fintech yang terus berkembang.
Optimisme itu tercermin dari keputusan perusahaan mempertahankan target EBITDA Grup yang disesuaikan sebesar Rp3,2 triliun hingga Rp3,4 triliun sepanjang 2026.
Di saat yang sama, GoTo bahkan menaikkan target kinerja bisnis fintech menjadi kisaran Rp1,7 triliun sampai Rp1,8 triliun. Sebaliknya, target EBITDA untuk bisnis On-Demand Services disesuaikan menjadi Rp1,4 triliun hingga Rp1,5 triliun sebagai konsekuensi penerapan komisi aplikasi terbaru.
Selain fokus pada pertumbuhan bisnis, GoTo juga melanjutkan berbagai program peningkatan kesejahteraan mitra pengemudi.
Perusahaan memperluas Program Apresiasi Mitra melalui dukungan kepesertaan BPJS Kesehatan dan Ketenagakerjaan, pemberian beasiswa, hingga kesempatan mengikuti program umrah gratis.
Hans menegaskan keberhasilan perusahaan tidak hanya diukur dari pencapaian finansial, tetapi juga dari manfaat yang dirasakan seluruh mitra dalam ekosistem GoTo.
Di sisi korporasi, perseroan juga menyiapkan langkah strategis berupa pembatalan lebih dari 32 miliar saham tresuri, setara sekitar 2,7 persen dari total saham beredar.
Usulan tersebut akan dibawa dalam agenda Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) setelah seluruh persiapan administratif rampung.
Meski prospek bisnis dinilai positif, GoTo mengingatkan bahwa seluruh target kinerja tetap bergantung pada perkembangan kondisi ekonomi, tingkat persaingan industri, inflasi biaya operasional, serta berbagai faktor eksternal lainnya yang dapat memengaruhi bisnis perusahaan.
Ikuti perkembangan berita ekonomi, bisnis digital, pasar modal, dan teknologi terbaru hanya di JurnalLugas.Com.
(Hans)





