JurnalLugas.Com – Perdagangan saham sektor energi di Bursa Efek Indonesia (BEI) dibuka dengan tekanan pada Rabu, 5 Agustus 2026.
Pelemahan terjadi setelah harga minyak mentah dunia merosot lebih dari lima persen dan menyentuh posisi terendah dalam hampir tiga pekan terakhir, memicu aksi jual pada sejumlah emiten migas.
Pada awal sesi perdagangan sekitar pukul 09.04 WIB, saham PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC) menjadi salah satu yang mengalami koreksi paling dalam. Harga saham perusahaan tersebut turun 3,28 persen ke level Rp1.325 per lembar.
Tekanan juga terlihat pada saham PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG) yang melemah 1,59 persen ke Rp1.235 per saham. Sementara itu, PT Elnusa Tbk (ELSA) dan PT Apexindo Pratama Duta Tbk (APEX) ikut berada di zona merah dengan penurunan masing-masing 0,72 persen dan 0,58 persen.
Emiten lain di sektor energi, PT AKR Corporindo Tbk (AKRA), juga mengalami pelemahan meski dalam skala lebih terbatas, yakni 0,34 persen.
Di tengah tekanan yang melanda mayoritas saham migas, PT Rukun Raharja Tbk (RAJA) tercatat bergerak stabil tanpa perubahan harga di level Rp875 per saham.
Berbeda dengan induknya, saham anak usaha PT Raharja Energi Cepu Tbk (RATU) justru masih mampu menguat tipis sekitar 0,40 persen, menunjukkan adanya minat beli yang tetap bertahan.
Pelemahan saham-saham energi tidak terlepas dari perkembangan terbaru di pasar minyak global. Pada perdagangan sebelumnya, harga minyak mentah mengalami penurunan tajam setelah muncul optimisme bahwa ketegangan geopolitik di Timur Tengah berpotensi mereda melalui jalur diplomasi.
Kontrak minyak mentah Brent ditutup turun sekitar 5,3 persen ke level 79,36 dolar AS per barel, sekaligus menjadi harga penutupan terendah sejak pertengahan Juli 2026.
Sementara itu, West Texas Intermediate (WTI) dari Amerika Serikat merosot 5,7 persen menjadi 75,77 dolar AS per barel, juga berada di titik terendah dalam tiga pekan.
Sentimen tersebut muncul setelah sejumlah pejabat Amerika Serikat dan Qatar menyampaikan perkembangan positif terkait komunikasi dengan Iran mengenai keamanan jalur pelayaran di Selat Hormuz.
Menteri Luar Negeri Amerika Serikat, Marco Rubio, mengatakan pembicaraan yang melibatkan Iran dan Oman menunjukkan kemajuan meskipun belum menghasilkan kesepakatan akhir.
“Masih ada perkembangan dalam proses pembicaraan, tetapi kesepakatan final belum tercapai,” ujarnya.
Sebelumnya, Menteri Keuangan Amerika Serikat, Scott Bessent, juga menyampaikan bahwa peluang tercapainya kesepakatan untuk membuka kembali arus pelayaran di Selat Hormuz semakin besar.
Menurutnya, hasil pembicaraan dapat muncul dalam waktu dekat apabila proses negosiasi berjalan sesuai harapan.
Prospek terbukanya kembali jalur distribusi energi dunia melalui Selat Hormuz dinilai mampu mengurangi kekhawatiran pasar terhadap risiko gangguan pasokan minyak global.
Kondisi tersebut mendorong aksi jual di pasar komoditas karena pelaku pasar memperkirakan pasokan minyak akan kembali lebih stabil.
Bagi emiten migas di Indonesia, pelemahan harga minyak dunia kerap menjadi sentimen negatif jangka pendek karena dapat memengaruhi ekspektasi pendapatan, terutama bagi perusahaan yang memiliki keterkaitan langsung dengan aktivitas eksplorasi dan produksi minyak mentah.
Meski demikian, pelaku pasar masih akan mencermati perkembangan negosiasi internasional dalam beberapa hari mendatang.
Setiap perubahan situasi geopolitik maupun dinamika harga minyak global diperkirakan tetap menjadi faktor utama yang menentukan arah pergerakan saham sektor energi di Bursa Efek Indonesia.
Ikuti berita ekonomi, pasar modal, harga minyak, dan perkembangan investasi terbaru hanya di https://JurnalLugas.Com.
(Hans)






