Harga Minyak Makin Panas, Brent Tembus USD88,91 akibat Ketegangan AS-Iran

JurnalLugas.Com – Harga minyak dunia kembali bergerak naik dan mencapai level tertinggi dalam sepekan. Penguatan terjadi ketika peluang tercapainya kesepakatan damai antara Amerika Serikat (AS) dan Iran semakin tidak pasti.

Situasi tersebut kembali memunculkan kekhawatiran pasar terhadap kelancaran pasokan minyak dari kawasan Timur Tengah. Investor pun merespons perkembangan geopolitik tersebut dengan meningkatkan perhatian terhadap potensi gangguan distribusi energi.

Bacaan Lainnya

Harga minyak Brent pada perdagangan Selasa, 11 Agustus 2026, naik 1,4 persen ke posisi USD88,91 per barel. Sementara minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat menguat 1,3 persen menjadi USD83,20 per barel.

Kedua harga acuan tersebut sekaligus mencatat level penutupan tertinggi sejak 31 Juli 2026. Kenaikan itu juga memperpanjang penguatan yang terjadi sehari sebelumnya.

Pada perdagangan Senin, 10 Agustus 2026, harga Brent dan WTI masing-masing melonjak sekitar 5 persen. Lonjakan tersebut terjadi setelah ekspektasi pasar terhadap kemungkinan perdamaian AS dan Iran mulai melemah.

Baca Juga  Harga Minyak Dunia Naik 1 Persen Usai Trump Ultimatum Rusia dan Ancam Tarif Baru

Pergerakan harga minyak kembali menunjukkan betapa sensitifnya pasar energi terhadap perkembangan geopolitik. Ketidakpastian mengenai konflik di Timur Tengah dapat membuat pelaku pasar memperhitungkan risiko terhadap pasokan minyak global.

Salah satu perhatian utama berada pada Selat Hormuz, jalur strategis yang memiliki peran penting dalam lalu lintas energi dunia.

Iran menyatakan jalur tersebut masih akan ditutup selama Amerika Serikat belum mengubah sikap dan menerima persyaratan yang diajukan Teheran untuk mengakhiri perang.

Pernyataan tersebut disampaikan sekretaris baru Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran pada Selasa, 11 Agustus 2026.

Ancaman berlanjutnya penutupan Selat Hormuz menjadi perhatian serius pasar minyak. Gangguan pada jalur pelayaran strategis tersebut berpotensi meningkatkan kekhawatiran terhadap pasokan energi dan mendorong harga minyak bergerak lebih tinggi.

Bagi pasar global, perubahan harga minyak memiliki dampak luas karena komoditas tersebut menjadi salah satu komponen penting dalam aktivitas ekonomi.

Kenaikan harga minyak dapat meningkatkan biaya transportasi dan produksi apabila berlangsung dalam waktu yang panjang.

Dalam kondisi saat ini, investor terus mencermati perkembangan hubungan AS dan Iran. Setiap perkembangan terkait konflik, perundingan damai, maupun kondisi Selat Hormuz berpotensi kembali memengaruhi harga minyak dalam perdagangan berikutnya.

Baca Juga  Harga Minyak Brent & WTI Anjlok OPEC+ Siap Tambah Produksi per Agustus

Penguatan Brent dan WTI untuk hari kedua berturut-turut menunjukkan pasar masih memberikan perhatian besar terhadap risiko geopolitik. Harga minyak pun kembali berada di bawah tekanan sentimen pasokan setelah sebelumnya sempat bergerak lebih rendah.

Jika ketegangan AS-Iran terus berlanjut dan akses pelayaran di Selat Hormuz belum kembali normal, risiko terhadap pasokan minyak menjadi faktor yang berpotensi menjaga harga tetap tinggi.

Untuk saat ini, pasar energi masih menunggu perkembangan terbaru dari kawasan Timur Tengah sambil mencermati arah hubungan Washington dan Teheran.

Baca berita dan informasi ekonomi terbaru lainnya hanya di JurnalLugas.Com.

(Endarto)

Tombol Google News - JurnalLugas

Pos terkait