JurnalLugas.Com – Bitcoin kembali tertahan di bawah level psikologis US$80.000 per koin setelah sebelumnya sempat menembus US$81.235. Kini, pergerakan aset kripto terbesar dunia itu berada di kisaran US$78.000 dan pasar mulai menunggu arah berikutnya.
Bitcoin sebelumnya mencatat kenaikan sekitar 26 persen dari US$62.700 menuju US$81.235. Namun, penguatan tersebut belum mampu bertahan dan harga kembali terkoreksi.
CEO dan Founder FLOQ, Yudhono Rawis, menilai koreksi tersebut belum serta-merta mengubah prospek Bitcoin. Menurutnya, pasar kini memasuki tahap penting untuk mengukur seberapa kuat permintaan investor setelah reli.
“Pasar sekarang masuk fase pembuktian, terutama melihat kekuatan permintaan dan arus dana institusional,” ujar Yudhono.
Salah satu indikator yang menjadi perhatian adalah arus dana exchange-traded fund (ETF) Bitcoin di Amerika Serikat. ETF Bitcoin dan Ethereum sempat mencatat inflow bersih sekitar US$2,71 miliar dalam sepekan hingga 24 Agustus, dengan Bitcoin menyumbang sekitar US$1,92 miliar.
Namun, aliran dana tersebut kemudian menunjukkan perlambatan. Spot Bitcoin ETF AS bahkan mencatat net outflow sekitar US$201,9 juta pada 28 Agustus.
Kondisi tersebut membuat area US$77.000 hingga US$80.000 menjadi zona yang patut diperhatikan. Jika arus ETF kembali positif ketika harga berada di area tersebut, investor besar dinilai masih berpeluang memanfaatkan koreksi untuk menambah kepemilikan.
Selain ETF, arah kebijakan moneter AS juga menjadi faktor penting. Pasar akan mencermati data ekonomi Amerika Serikat, terutama inflasi dan tenaga kerja, sebelum pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) pada 15-16 September 2026.
Data tersebut dapat memengaruhi ekspektasi terhadap kebijakan suku bunga The Fed. Inflasi yang tetap tinggi berpotensi membuat tekanan terhadap aset berisiko bertahan lebih lama. Sebaliknya, tanda-tanda pelemahan ekonomi tanpa lonjakan inflasi dapat membuka ruang bagi Bitcoin untuk kembali mendapatkan momentum.
Dalam jangka pendek, US$80.000-US$81.000 menjadi batas penting. Bitcoin yang mampu menembus sekaligus bertahan di atas area tersebut berpotensi membangun tren penguatan baru.
Sebaliknya, kegagalan merebut kembali US$80.000 dapat membuat Bitcoin melanjutkan konsolidasi sembari menunggu katalis baru dari pasar global.
Yudhono menilai persoalan utama bukan hanya kemampuan Bitcoin menyentuh US$80.000 kembali, melainkan apakah level tersebut mampu berubah menjadi area penopang harga.
Dengan demikian, September berpotensi menjadi periode penuh gejolak bagi Bitcoin. Investor akan berhadapan dengan dua penentu utama, yakni arah arus modal institusional melalui ETF dan perkembangan kebijakan moneter Amerika Serikat.
Baca berita ekonomi dan perkembangan pasar lainnya hanya di JurnalLugas.Com.
JurnalLugas.Com
(Hans)






