Laba Sido Muncul Turun 24 Persen hingga September 2026, Penjualan Jamu Tertekan

JurnalLugas.Com – Kinerja keuangan PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk (SIDO) masih menghadapi tekanan hingga kuartal III 2026. Penjualan yang melemah, terutama pada segmen jamu herbal dan suplemen, turut menekan laba bersih produsen Tolak Angin tersebut.

Berdasarkan laporan keuangan per 30 September 2026, Sido Muncul membukukan laba bersih sebesar Rp619,09 miliar. Angka itu turun sekitar 24,4 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang mencapai Rp818,54 miliar.

Bacaan Lainnya

Penurunan laba terjadi seiring dengan melemahnya pendapatan perusahaan. Sepanjang Januari hingga September 2026, penjualan SIDO tercatat sekitar Rp2,49 triliun, lebih rendah dibandingkan Rp2,72 triliun pada periode yang sama tahun lalu.

Kondisi ini memperlihatkan bahwa tantangan perusahaan bukan hanya menjaga keuntungan, tetapi juga memulihkan penjualan di tengah melemahnya kontribusi sejumlah produk utama.

Segmen Jamu Herbal dan Suplemen Paling Tertekan

Segmen jamu herbal dan suplemen menjadi salah satu perhatian utama dalam laporan kinerja Sido Muncul. Penjualan dari segmen tersebut turun sekitar 26 persen menjadi Rp1,2 triliun.

Baca Juga  Kinerja Melejit, PT Rukun Raharja Tbk (RAJA) Catat Laba Melonjak 20%, Siap Gaspol Ekspansi

Pelemahan penjualan turut memengaruhi laba kotor perusahaan yang turun menjadi sekitar Rp1,30 triliun dari sebelumnya Rp1,54 triliun.

Di sisi lain, beban pokok pendapatan masih mengalami kenaikan tipis menjadi sekitar Rp1,19 triliun. Kombinasi penurunan penjualan dan kenaikan beban tersebut mempersempit ruang perusahaan untuk mempertahankan keuntungan.

Laba usaha SIDO juga menyusut menjadi Rp788 miliar, turun sekitar 23 persen dibandingkan periode yang sama pada 2025. Angka ini menunjukkan tekanan kinerja tidak hanya terjadi pada penjualan, tetapi juga berlanjut hingga tingkat operasional.

Arus Kas Tetap Kuat di Tengah Penurunan Laba

Meski laba mengalami koreksi, kondisi arus kas Sido Muncul masih menunjukkan ketahanan. Perusahaan mencatat kas bersih dari aktivitas operasi sebesar Rp913,8 miliar selama sembilan bulan pertama 2026.

Belanja modal tercatat relatif rendah, yakni sekitar Rp30 miliar. Dengan kondisi tersebut, kas perusahaan bertambah Rp435,6 miliar sepanjang periode Januari hingga September, termasuk setelah memperhitungkan pembayaran dividen.

Pada akhir September 2026, kas dan setara kas SIDO mencapai Rp883 miliar. Perusahaan juga mencatat penurunan piutang usaha menjadi Rp351,5 miliar dan mempertahankan kebijakan tanpa utang berbunga.

Kondisi tersebut menjadi penopang likuiditas perusahaan ketika kinerja penjualan dan laba belum kembali ke tingkat tahun sebelumnya.

Baca Juga  Pendapatan SIG Tembus Rp25,3 Triliun! Strategi Efisiensi Jadi Kunci di Tahun Ini

Sebelumnya, Direktur Keuangan Sido Muncul, Budiyanto, menjelaskan bahwa perusahaan melakukan penyesuaian pengiriman ketika persediaan distributor dinilai terlalu tinggi. Dalam penjelasannya pada September 2026, ia menyampaikan harapan agar penjualan kembali normal pada kuartal III atau IV.

“Diharapkan di Q3 atau Q4 penjualan akan kembali normal,” ujar Budiyanto dalam paparan publik pada 9 September 2026.

Perkembangan kinerja hingga September menjadi bagian penting untuk melihat sejauh mana normalisasi persediaan dapat mendukung pemulihan penjualan. Namun, laporan keuangan terbaru masih memperlihatkan penurunan pendapatan dan laba dibandingkan tahun sebelumnya.

Dengan demikian, perhatian terhadap kinerja SIDO berikutnya tidak hanya tertuju pada kemampuan mempertahankan arus kas, tetapi juga pada pemulihan penjualan produk herbal dan suplemen sebagai salah satu segmen utamanya.

Baca berita lainnya di JurnalLugas.Com

(Hans)

Tombol Google News - JurnalLugas

Pos terkait