JurnalLugas.Com – Harga batu bara global mengalami penurunan pada perdagangan kemarin akibat komentar hawkish dari pejabat bank sentral Amerika Serikat (AS) Federal Reserve (The Fed)
Menurut data Refinitiv, harga batu bara ICE Newcastle untuk kontrak Juni pada Senin (20/5/2024) turun 0,36% menjadi US$140 per ton.
Pergerakan harga batu bara dunia sangat dipengaruhi oleh kebijakan moneter AS, yang merupakan konsumen terbesar ketiga di dunia.
Ketika suku bunga tinggi, ekspansi industri menjadi terhambat, yang pada gilirannya menurunkan permintaan batu bara untuk kebutuhan listrik.
Meskipun begitu, batu bara masih menjadi sumber energi utama di berbagai negara besar di dunia seperti Amerika Serikat, China, dan Indonesia.
Di Amerika Serikat sendiri, batu bara masih memainkan peran penting dalam pembangkit listrik. Sekitar 16% dari pembangkit listrik di AS masih menggunakan batu bara, lebih besar dibandingkan dengan tenaga angin (11%), tenaga air (6%), atau tenaga surya (4%).
Pejabat Federal Reserve menyatakan bahwa inflasi belum menunjukkan tanda-tanda menuju target bank sentral sebesar 2% meskipun ada data pelonggaran tekanan harga konsumen pada bulan April.
Beberapa pejabat pada Senin kemarin menyerukan untuk tetap berhati-hati dalam kebijakan moneter.
“Masih terlalu dini untuk mengatakan apakah perlambatan proses disinflasi baru-baru ini akan bertahan lama,” kata Wakil Ketua Fed Philip Jefferson pada konferensi Mortgage Bankers Association di New York, meskipun ia menyebut data bulan April “menggembirakan.”
Jefferson menyatakan bahwa kebijakan moneter saat ini masih ketat dan menolak memberi prediksi apakah penurunan suku bunga akan dimulai tahun ini.
Ia hanya menyebutkan bahwa akan menilai data ekonomi yang masuk dengan hati-hati, termasuk prospek dan keseimbangan risiko.
Berbicara di konferensi lain yang diadakan oleh Fed Atlanta, Wakil Ketua Pengawasan Fed Michael Barr mengatakan bahwa pembacaan inflasi kuartal pertama yang “mengecewakan” tidak memberikan kepercayaan diri yang cukup untuk mendukung pelonggaran kebijakan moneter.
Seperti Jefferson, Barr menegaskan bahwa penurunan suku bunga yang diantisipasi oleh pasar akan ditunda sampai ada kepastian bahwa inflasi akan kembali ke target Fed sebesar 2%.
“Kami perlu memberikan kebijakan pembatasan kami waktu yang cukup untuk dapat berfungsi dengan baik,” kata Barr.






