JurnalLugas.Com – Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati melaporkan bahwa Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2024 mencatat defisit hingga akhir Juni. Situasi ini diakibatkan oleh penurunan pendapatan negara yang kontras dengan peningkatan belanja negara.
Pada Senin, 8 Juli 2024, Sri Mulyani mengungkapkan bahwa realisasi penerimaan negara per akhir semester I-2024 mencapai Rp 1.320,7 triliun, setara dengan 47,1% dari target APBN. Angka ini mengalami penurunan sebesar 6,2% dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya.
Penurunan Penerimaan Negara
Penerimaan pajak tercatat sebesar Rp 1.028 triliun, turun 7% dibandingkan semester pertama 2023. Sedangkan Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) mencapai Rp 288,4 triliun, mengalami penurunan sebesar 4,5% dari semester I-2023.
Sri Mulyani menjelaskan bahwa penurunan ini disebabkan oleh turunnya profitabilitas perusahaan di sektor kelapa sawit (CPO), batu bara, dan tembaga. Selain itu, perusahaan-perusahaan tersebut juga mengajukan restitusi yang lebih cepat karena kebutuhan likuiditas yang mendesak.
“Penerimaan negara dari batu bara yang pada semester I-2023 mencapai Rp 68 triliun, kini hanya tersisa Rp 14,2 triliun, turun drastis sebesar 53,9%,” ungkap Sri Mulyani. “Demikian juga dengan komoditas sawit yang turun dari Rp 15,6 triliun ke Rp 6,8 triliun, serta tembaga yang turun dari Rp 10,8 triliun tahun lalu menjadi Rp 6,6 triliun tahun ini.”
Peningkatan Belanja Negara
Di sisi lain, belanja negara per semester I-2024 tercatat sebesar Rp 1.398 triliun, meningkat 11,3% dari periode yang sama tahun lalu. Kenaikan ini terjadi baik pada belanja pemerintah pusat maupun transfer ke daerah.
“Keseimbangan primer masih positif sebesar Rp 162,7 triliun, namun angka ini turun 55,8% dibandingkan semester I-2023,” tambah Sri Mulyani.
Defisit APBN 2024
APBN 2024 mencatatkan defisit sebesar Rp 77,3 triliun hingga akhir semester I-2024, yang setara dengan 0,34% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). “Pada semester I tahun lalu, kita masih mencatat surplus sebesar Rp 152,3 triliun. Namun tahun ini, pada periode yang sama, kita mengalami defisit Rp 77,3 triliun,” jelas Sri Mulyani.
Situasi ini menandakan tantangan besar yang harus dihadapi pemerintah dalam mengelola keuangan negara di tengah fluktuasi ekonomi global dan domestik. Langkah-langkah strategis dan kebijakan yang tepat perlu diambil untuk mengatasi defisit ini dan memastikan stabilitas fiskal di masa mendatang.






