Bandai Namco Perusahaan Game Jepang Pangkas Pekerja Secara Oidashi Beya

JurnalLugas.Com – Bandai Namco Holdings Inc., perusahaan game asal Jepang yang terkenal dengan sejumlah game ikonik seperti Pac-Man, Dragon Ball, dan Gundam, mengambil langkah untuk mengurangi tenaga kerjanya. Kebijakan ini muncul setelah beberapa proyek perusahaan dibatalkan di tengah lesunya permintaan pasar dan melonjaknya biaya operasional.

Pengunduran Diri Paksa Tanpa PHK Massal Oidashi Beya

Berbeda dengan kebijakan pemutusan hubungan kerja (PHK) massal, Bandai Namco tidak langsung memutus kontrak pekerjanya. Sebaliknya, perusahaan ini menggunakan strategi yang dikenal dengan istilah oidashi beya atau “ruang pengusiran,” praktik umum di Jepang yang bertujuan mendorong karyawan mengundurkan diri secara sukarela. Langkah ini sering diterapkan mengingat undang-undang ketenagakerjaan di Jepang memberikan perlindungan tinggi bagi pekerja.

Bacaan Lainnya

Menurut laporan, sekitar 200 dari total 1.300 karyawan Bandai Namco ditempatkan di ruangan-ruangan khusus tanpa diberi tugas apa pun. Hingga saat ini, dilaporkan bahwa sekitar 100 karyawan akhirnya memilih mundur dari perusahaan. Namun, pihak Bandai Namco menyangkal bahwa mereka memaksa karyawan untuk keluar. Menurut pernyataan resmi perusahaan, alasan tidak diberikannya tugas kepada beberapa pekerja adalah karena tidak ada proyek baru yang tersedia.

Baca Juga  Merger TikTok Shop dan Tokopedia ByteDance Ltd PHK 450 Karyawan Toped pada Juni 2024

Industri Game Jepang Berada di Bawah Tekanan

Bandai Namco bukan satu-satunya perusahaan game yang menghadapi tantangan besar. Rival utamanya, Square Enix Holdings Co., juga harus membatalkan beberapa proyek game mobile yang dianggap tidak menguntungkan. Selain itu, Sony Group Corp. baru-baru ini menghentikan pengembangan game daring bernama Concord hanya dua minggu setelah peluncurannya.

Penurunan permintaan ini menunjukkan perubahan tren industri setelah pandemi, di mana konsumen lebih selektif dalam memilih game, sementara biaya pengembangan terus meningkat. Situasi ini memaksa banyak perusahaan game, termasuk Bandai Namco, untuk meninjau ulang strategi mereka demi menjaga profitabilitas.

Baca Juga  Narasi PHK Industri Harus Proporsional Kemenperin Dampak Relaksasi Impor

Langkah Bandai Namco untuk memangkas biaya dan menyesuaikan diri dengan pasar yang berubah merupakan refleksi dari dinamika industri game yang semakin kompetitif.

Dengan tekanan yang meningkat, baik dari sisi biaya maupun penurunan minat konsumen, perusahaan-perusahaan game dituntut untuk lebih adaptif.

Meski kebijakan oidashi beya menuai kontroversi, Bandai Namco tampaknya berusaha menghindari PHK massal dengan cara-cara yang sesuai dengan praktik industri di Jepang.

Dalam waktu dekat, Bandai Namco dan perusahaan lain di sektor ini diprediksi akan terus mencari solusi untuk bertahan di tengah perubahan lanskap bisnis. Apakah mereka mampu beradaptasi atau justru kehilangan momentum, hanya waktu yang akan menjawab.

Tombol Google News - JurnalLugas

Pos terkait