JurnalLugas.Com – Rencana penundaan pelantikan pasangan calon kepala daerah terpilih dalam Pilkada Serentak 2024 menjadi sorotan. Pelantikan yang awalnya dijadwalkan pada Februari 2025 kini diwacanakan untuk diundur ke Maret 2025. Langkah ini didukung oleh Ketua Laboratorium Jurusan Ilmu Politik Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed), Ahmad Sabiq, yang menilai bahwa penundaan tersebut bertujuan untuk memastikan keseragaman masa jabatan kepala daerah di seluruh Indonesia.
Alasan Penundaan Pelantikan
Ahmad Sabiq menyebutkan bahwa salah satu alasan utama penundaan ini adalah proses penyelesaian Perselisihan Hasil Pemilihan Umum (PHPU) Pilkada Serentak 2024 oleh Mahkamah Konstitusi (MK). Berdasarkan jadwal, MK diperkirakan menyelesaikan seluruh perkara PHPU pada 13 Maret 2025. Oleh karena itu, pelantikan lebih baik dilakukan setelah semua sengketa selesai untuk menjaga integritas dan harmonisasi pelaksanaan pemerintahan daerah.
“Yang penting ada payung hukumnya dalam penundaan pelantikan kepala daerah terpilih itu,” tegas Sabiq.
Pengisian Kekosongan Jabatan
Terkait kepala daerah yang masa jabatannya berakhir pada Februari 2025, Ahmad Sabiq menekankan bahwa kekosongan jabatan tidak boleh terjadi. Kekosongan tersebut dapat diisi oleh Pelaksana Harian (Plh) atau Pelaksana Tugas (Plt) selama maksimal tiga bulan hingga kepala daerah terpilih resmi dilantik. Langkah ini penting untuk memastikan roda pemerintahan tetap berjalan dengan lancar.
Prinsip Dasar Pilkada Serentak
Sementara itu, Ketua Komisi II DPR RI, Rifqinizamy Karsayuda, membenarkan wacana penundaan ini. Menurutnya, prinsip dasar dari Pilkada Serentak adalah pelantikan yang dilakukan secara serempak di seluruh daerah. Oleh karena itu, meskipun tidak semua daerah mengalami sengketa hasil pemilu, kepala daerah yang sudah terpilih tetap harus menunggu hingga seluruh sengketa selesai diselesaikan oleh MK.
“Itulah prinsip dasar pilkada serentak. Karena itu, yang tidak sengketa pun harus menunggu selesainya yang bersengketa di MK,” jelas Rifqinizamy.
Penundaan pelantikan ini diharapkan dapat menciptakan keseragaman masa jabatan kepala daerah di Indonesia dan memastikan keberlanjutan pemerintahan yang tertib hukum. Dengan adanya payung hukum yang jelas, langkah ini dapat menjadi solusi yang adil bagi semua pihak, baik bagi daerah yang bersengketa maupun tidak.
Untuk informasi terkini dan mendalam terkait isu ini, kunjungi JurnalLugas.Com.






