JurnalLugas.Com – PT Smartfren Telecom Tbk (FREN) mengalami peningkatan kerugian signifikan pada tahun 2024, mencatat rugi bersih sebesar Rp1,29 triliun. Angka ini jauh lebih besar dibandingkan dengan tahun 2023 yang hanya sebesar Rp108,9 miliar.
Penurunan kinerja ini terjadi di tengah turunnya pendapatan usaha yang hanya mencapai Rp11,42 triliun, atau turun 2% dibandingkan tahun sebelumnya yang mencapai Rp11,66 triliun.
Pendapatan Smartfren: Dominasi Jasa Telekomunikasi
Dari total pendapatan FREN, segmen jasa telekomunikasi masih menjadi penyumbang utama dengan kontribusi sebesar Rp9,90 triliun atau sekitar 87% dari total pendapatan perusahaan. Sementara itu, pendapatan dari segmen jasa interkoneksi hanya mencapai Rp260 miliar, sedangkan pendapatan dari segmen lain-lain sebesar Rp825 miliar.
Penurunan pendapatan ini diperparah dengan meningkatnya beban usaha sebesar 5,5%, dari Rp11,11 triliun pada 2023 menjadi Rp11,73 triliun pada 2024. Beban terbesar berasal dari:
- Penyusutan dan amortisasi: Rp4,88 triliun
- Operasi, pemeliharaan, dan jasa telekomunikasi: Rp4,30 triliun
- Penjualan dan pemasaran: Rp1,60 triliun
Beban Bunga dan Keuangan Membebani Kinerja
Secara operasional, Smartfren mencatat defisit sebesar Rp309 miliar. Namun, kondisi ini semakin memburuk akibat tingginya beban bunga dan keuangan yang mencapai Rp1,32 triliun. Selain itu, perusahaan juga mengalami penurunan tajam pada pendapatan lain-lain, khususnya dari keuntungan utang obligasi serta selisih kurs.
Akumulasi defisit Smartfren terus membengkak, kini mencapai Rp26,33 triliun. Dengan kondisi keuangan yang semakin tertekan, perusahaan yang berada di bawah naungan Sinar Mas ini menghadapi tantangan besar dalam menjaga kestabilan keuangannya di masa depan.
Untuk informasi lebih lanjut seputar perkembangan ekonomi dan bisnis, kunjungi JurnalLugas.com.






