JurnalLugas.Com — Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali melontarkan tuduhan serius terhadap China, menyebut Negeri Tirai Bambu itu telah melanggar kesepakatan gencatan senjata tarif yang baru saja dicapai awal bulan ini. Tuduhan tersebut muncul di tengah suasana negosiasi yang rapuh antara dua kekuatan ekonomi terbesar dunia.
Dalam unggahan media sosial yang bernada keras pada Sabtu (31/5/2025), Trump menyatakan bahwa “China telah benar-benar melanggar perjanjiannya dengan kami”, tanpa menyebutkan secara spesifik pelanggaran yang dimaksud. Namun, Perwakilan Dagang AS, Jamieson Greer, menambahkan bahwa China belum mencabut hambatan non-tarif seperti yang telah dijanjikan dalam kesepakatan sebelumnya.
Ketegangan Meningkat Meski Ada Gencatan
Sebelumnya, Washington dan Beijing sepakat menurunkan tarif setelah pertemuan diplomatik di Jenewa pada 11 Mei lalu. Dalam pertemuan tersebut, kedua belah pihak menyepakati langkah awal untuk meredam perang dagang yang telah berlangsung selama bertahun-tahun.
Namun, harapan akan tercapainya perdamaian jangka panjang mulai memudar. Greer mengungkapkan bahwa meski tarif utama telah diturunkan, China masih memperlambat pencabutan pembatasan lainnya seperti daftar hitam perusahaan AS dan pengendalian ekspor bahan penting seperti magnet tanah jarang.
“Amerika Serikat telah menunaikan komitmennya, namun China lambat dalam kepatuhan yang telah disepakati. Ini tidak dapat diterima,” tegas Greer.
China Balas Tudingan, Serukan Penghentian Tindakan Diskriminatif
Menanggapi tudingan dari AS, pemerintah China memilih untuk tidak menanggapi langsung, namun menyerukan agar Washington menghentikan berbagai pembatasan yang dianggap diskriminatif terhadap China.
Dalam pernyataan yang dikeluarkan oleh Kedutaan Besar China di Washington, mereka mengungkapkan kekhawatiran atas pembatasan AS terhadap ekspor teknologi, khususnya di sektor semikonduktor. Pemerintah AS diketahui telah menambah daftar larangan ekspor chip, bahan kimia, hingga mesin ke China.
“China telah beberapa kali menyuarakan keprihatinan kepada AS atas penyalahgunaan kontrol ekspor. Tindakan seperti ini hanya akan memperburuk ketegangan yang ada,” ujar juru bicara kedutaan.
Visa Pelajar Dicabut, Perdagangan Tersendat
Sebagai bagian dari langkah tegas yang diambil pemerintahan Trump, AS juga mulai mencabut visa milik pelajar asal China, yang jumlahnya mencapai lebih dari 280.000 orang. Langkah ini dinilai dapat memperkeruh hubungan diplomatik kedua negara.
Sementara itu, Menteri Keuangan AS Scott Bessent mengakui bahwa pembicaraan perdagangan dengan China “sedikit tersendat”, meskipun saluran komunikasi tetap terbuka.
Tarif Jadi Alat Tawar Politik
Kesepakatan yang tercapai awal bulan ini mengurangi tarif impor dari China, dari sebelumnya 145% menjadi hanya 30%. Sebaliknya, China juga memangkas tarif balasan terhadap barang AS dari 125% menjadi 10%. Meski demikian, pemerintahan Trump masih melihat tarif sebagai alat strategis untuk menekan mitra dagang.
Trump berpendapat bahwa tarif akan mendorong konsumen Amerika membeli produk dalam negeri, sehingga memperkuat industri manufaktur dan meningkatkan penerimaan negara.
Selain China, AS juga terus menjajaki kesepakatan dagang baru dengan mitra lainnya. Delegasi Jepang misalnya, telah melanjutkan negosiasi di Washington pada Jumat kemarin. Bessent menyebutkan bahwa “beberapa kesepakatan sudah dekat, namun sebagian lainnya memerlukan upaya lebih besar.”
Untuk informasi lebih lengkap dan perkembangan terkini lainnya, kunjungi JurnalLugas.Com.






