Waspada Varian Baru COVID-19 NB.1.8.1 Sudah Tersebar di 22 Negara Ini Gejalanya!

JurnalLugas.Com — Dunia kembali menghadapi kemunculan subvarian baru COVID-19 bernama NB.1.8.1, yang merupakan turunan dari varian Omicron. Berdasarkan laporan terbaru Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), varian ini menunjukkan tren peningkatan di berbagai negara sejak pertama kali terdeteksi pada 22 Januari 2025.

Meski kasusnya terus bertambah, WHO menegaskan bahwa risiko terhadap kesehatan masyarakat global dari varian NB.1.8.1 masih tergolong rendah. Di Amerika Serikat, misalnya, jumlah infeksi yang dikaitkan dengan subvarian ini belum cukup signifikan untuk masuk dalam sistem pemantauan varian milik Centers for Disease Control and Prevention (CDC).

Bacaan Lainnya

Gejala yang Muncul Masih Serupa Varian Sebelumnya

Sejauh ini, pasien yang terinfeksi NB.1.8.1 mengalami gejala yang hampir sama dengan subvarian Omicron dan turunannya. Di antaranya meliputi:

  • Demam
  • Batuk
  • Sakit tenggorokan
  • Pusing
  • Mual dan muntah
  • Nyeri sendi

Belum ada indikasi bahwa NB.1.8.1 menyebabkan gejala yang lebih berat dibandingkan varian-varian sebelumnya. WHO secara resmi memasukkan NB.1.8.1 sebagai variant under monitoring (VUM) pada 23 Mei 2025, kategori yang mengindikasikan perlunya pemantauan ekstra terhadap penyebarannya.

Baca Juga  Varian Covid XFG Ditemukan di India Lebih Menular dan Sulit Terdeteksi? Ini Gejalanya

Data Global: Teridentifikasi di 22 Negara

Menurut data WHO per 18 Mei 2025, setidaknya 518 kasus NB.1.8.1 telah terkonfirmasi di 22 negara. Dalam kurun waktu empat pekan terakhir, proporsinya naik dari 2,5% menjadi 10,7% dari total kasus COVID-19 global.

Dr. Todd Ellerin, Kepala Penyakit Menular di South Shore Health, menyampaikan bahwa lonjakan kasus COVID-19 bisa terjadi tanpa memperhatikan musim.

“COVID-19 adalah virus yang unik. Ia bisa melonjak baik saat musim panas maupun musim dingin, tidak seperti virus pernapasan musiman lain,” ungkapnya pada Selasa (3/6/2025).

Namun, Ellerin menegaskan bahwa masih terlalu dini untuk menyimpulkan apakah NB.1.8.1 akan menyebabkan lonjakan signifikan dalam beberapa bulan ke depan.

Tingkat Keparahan Masih Terkendali, Tapi Penularan Meningkat

Dr. John Brownstein, Chief Innovation Officer di Boston Children’s Hospital, menjelaskan bahwa sejauh ini tidak ada peningkatan tingkat keparahan pada varian NB.1.8.1. Namun, tingkat penularannya yang tinggi dapat menyebabkan lebih banyak infeksi, dan secara statistik dapat meningkatkan jumlah pasien rawat inap dan kematian.

“Jika varian ini lebih mudah menyebar, maka risiko pada populasi juga meningkat,” jelas Brownstein.
“Namun vaksin COVID-19 yang ada saat ini masih diperkirakan efektif dalam memberikan perlindungan terhadap varian ini,” tambahnya.

Beberapa mutasi pada protein spike (permukaan virus) diyakini berperan dalam meningkatnya daya sebar NB.1.8.1. Oleh karena itu, WHO tetap mendorong vaksinasi lengkap dan booster sebagai pertahanan utama.

Perlindungan Tetap Penting, Terutama bagi Kelompok Rentan

Bagi kelompok dengan risiko tinggi, seperti lansia atau penderita gangguan kekebalan tubuh, langkah perlindungan tambahan tetap disarankan. Penggunaan masker, menghindari kerumunan besar, dan memastikan vaksinasi lengkap adalah upaya preventif yang masih relevan.

“Prinsip dasarnya tetap sama: pastikan setiap orang mendapat vaksin dan booster yang sesuai anjuran,” tutup Brownstein.

Pantau terus perkembangan seputar COVID-19 dan informasi kesehatan penting lainnya hanya di JurnalLugas.Com.

Tombol Google News - JurnalLugas

Pos terkait