Saham PT Triputra Agro Persada Tbk (TAPG) Direkomendasikan Buy Siap Tumbuh Berkat Biodiesel

JurnalLugas.Com – PT Triputra Agro Persada Tbk (TAPG), emiten sawit terintegrasi, mendapatkan rekomendasi beli (buy) dari Phintraco Sekuritas dengan target harga Rp1.300 per saham. Rekomendasi ini mencerminkan optimisme terhadap prospek kinerja TAPG yang dinilai solid secara fundamental, seiring dengan stabilnya iklim dan peningkatan permintaan domestik untuk produk berbasis kelapa sawit, khususnya biodiesel.

Dalam riset yang dirilis Selasa (8/7/2025), analis Phintraco Sekuritas, Aditya Prayoga, menyatakan bahwa valuasi saham TAPG cukup menarik. Ia menggunakan pendekatan discounted cash flow (DCF) dengan parameter weighted average cost of capital (WACC) sebesar 16,4% dan terminal growth rate sebesar 2%. Berdasarkan model tersebut, valuasi TAPG untuk tahun buku 2025 dipatok pada rasio harga terhadap laba (PER) sebesar 7,5x dan rasio harga terhadap nilai buku (PBV) sebesar 2,2x.

Bacaan Lainnya

“Dengan profil perkebunan yang produktif, neraca keuangan solid, serta strategi ekspansi yang terukur, TAPG berada dalam posisi yang baik untuk mencatat pertumbuhan berkelanjutan,” tulis Aditya dalam risetnya.

Produktivitas Tinggi Berkat Usia Tanaman Muda

TAPG saat ini mengelola sekitar 160 ribu hektare perkebunan kelapa sawit yang tersebar di sejumlah wilayah Indonesia. Menariknya, rata-rata usia tanaman sawit yang dikelola masih tergolong muda, yakni sekitar 14,2 tahun. Hal ini memberikan keunggulan strategis dalam mempertahankan tingkat produktivitas tinggi untuk jangka panjang.

Selain lahan perkebunan, TAPG juga memiliki dan mengoperasikan 18 pabrik kelapa sawit (PKS) dengan kapasitas olahan tandan buah segar (TBS) mencapai 995 ton per jam. Tak hanya itu, perusahaan ini turut memperluas lini bisnisnya melalui fasilitas pengolahan inti sawit (PKO) dengan kapasitas 300 ton per hari dan instalasi biogas berkapasitas 1,5 megawatt (MW), sebagai bagian dari komitmen terhadap energi terbarukan dan efisiensi operasional.

Produksi CPO Tetap Stabil, Disokong Kondisi Iklim Netral

Phintraco Sekuritas memperkirakan bahwa produksi crude palm oil (CPO) TAPG akan tetap stabil di semester kedua tahun ini. Kondisi iklim netral yang diperkirakan berlangsung hingga kuartal pertama 2026 akan membantu menjaga pola curah hujan di wilayah Asia Tenggara, yang pada gilirannya menopang tingkat hasil panen (yield) sawit.

Meski demikian, analis memperingatkan adanya potensi risiko dari lonjakan harga pupuk akibat ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah. Namun, risiko tersebut dinilai terkendali karena sebagian besar perusahaan termasuk TAPG telah mengamankan kebutuhan pupuknya hingga 12 bulan ke depan.

Kebutuhan Biodiesel Dorong Permintaan Domestik CPO

Salah satu pendorong utama pertumbuhan permintaan CPO di tahun 2025 berasal dari program mandatori biodiesel B40. Pemerintah Indonesia berencana mengimplementasikan campuran biodiesel 40% ke dalam solar subsidi pada tahun depan. Proyeksi kuota nasional untuk biodiesel pun meningkat sebesar 16% (year-on-year) menjadi 15 juta kiloliter.

Kebutuhan ini setara dengan 13 hingga 14 juta ton CPO, naik sekitar 14% dibanding tahun sebelumnya. Dengan demikian, kontribusi konsumsi CPO domestik dari sektor biodiesel diperkirakan mencapai 48 hingga 50% dari total konsumsi nasional.

Selain biodiesel, sektor industri seperti makanan dan minuman juga menunjukkan permintaan yang meningkat. PKO, sebagai substitusi cocoa butter, menjadi bahan baku penting dalam industri cokelat dan makanan olahan lainnya. Permintaan dalam negeri untuk PKO dinilai turut menjadi penopang pertumbuhan bisnis TAPG.

Proyeksi Pendapatan dan Laba Meningkat

Dalam basis proyeksi Phintraco, pendapatan TAPG sepanjang 2025 diperkirakan mencapai Rp10,5 triliun, naik 9% dibanding tahun sebelumnya. Proyeksi ini ditopang oleh peningkatan volume penjualan CPO yang diperkirakan mencapai 680 ribu ton serta penjualan PKO sebesar 27 ribu ton.

Dari sisi profitabilitas, laba bersih TAPG diperkirakan menyentuh angka Rp3,4 triliun. Margin laba bersih perusahaan pun terjaga kuat di level 32,8%, yang mencerminkan efisiensi biaya pokok penjualan dan operasional yang tetap terkendali.

Risiko Masih Mengintai

Meski outlook TAPG terlihat positif, beberapa tantangan tetap perlu diperhatikan. Salah satunya adalah potensi penurunan yield TBS yang dapat disebabkan oleh perubahan pola cuaca atau serangan hama. Selain itu, volatilitas harga CPO di pasar global yang dipengaruhi oleh dinamika perdagangan internasional dan kebijakan ekspor negara produsen lain juga menjadi variabel yang harus diantisipasi.

Tak kalah penting, perubahan regulasi terkait lingkungan dan energi di tingkat nasional maupun internasional bisa memengaruhi strategi operasional perusahaan. Ketidakpastian dari sisi regulasi tersebut bisa berdampak pada kinerja jangka menengah hingga panjang.

Prospek Tetap Cerah

Kendati sejumlah risiko tetap ada, secara keseluruhan TAPG berada pada posisi yang menjanjikan untuk mencatatkan pertumbuhan berkelanjutan. Kombinasi antara strategi ekspansi terukur, struktur keuangan yang sehat, diversifikasi fasilitas pengolahan, serta dukungan program pemerintah dalam penggunaan biodiesel menjadikan TAPG sebagai salah satu saham sektor agribisnis yang patut dipertimbangkan investor.

Phintraco Sekuritas menyimpulkan bahwa dengan valuasi yang relatif murah dibandingkan rata-rata industri dan prospek pertumbuhan yang konsisten, saham TAPG layak menjadi salah satu portofolio utama dalam sektor perkebunan.

Baca berita lainnya di: https://JurnalLugas.Com

Tombol Google News - JurnalLugas
Baca Juga  Produktivitas Sawit Rakyat Dukung Mandatori Biodiesel B50 Nasional

Pos terkait