Petani Batu Bara Minta Bantuan Gibran Atasi Kekeringan Lahan Pertanian

JurnalLugas.Com – Petani padi dan cabai di Kabupaten Batu Bara, Provinsi Sumatera Utara (Sumut), tengah menghadapi krisis serius akibat kekeringan lahan pertanian. Sumber air irigasi yang biasanya menjadi andalan petani kini mengering total, membuat sawah-sawah terlihat tandus dan gersang.

Kondisi ini dialami oleh sejumlah desa di Kecamatan Lima Puluh Pesisir, termasuk Desa Bulan-bulan. Para petani terpaksa mencari alternatif dengan menggali sumur bor atau memompa air dari parit pembuangan ke ladang mereka. Langkah itu tidak hanya menyita waktu dan tenaga, tetapi juga menguras biaya.

Bacaan Lainnya
Petani sedang memperbaiki mesin pompa air

“Ini usaha kita mempertahankan tanaman kami, tak ada modal beli bensin ya utanglah, tanaman butuh air siram, kalau mati kita bisa rugi dalam,” ujar seorang petani Paruh Baya, Kamis, 24 Juli 2025.

Kesulitan yang dialami para petani ini menimbulkan kekecewaan mendalam terhadap pemerintah daerah. Banyak petani merasa tidak mendapatkan perhatian, bahkan menganggap pejabat pertanian tidak memahami penderitaan di lapangan.

“Ah mana awak tahu bang, mereka (pemerintah) itu duduk tidur pakai AC jadi mana tahu kayak gini petani kesusahan,” katanya dengan nada kesal.

Ironisnya, saat dikonfirmasi mengenai persoalan kekeringan yang melanda lahan pertanian, pejabat Dinas Pertanian Kabupaten Batu Bara, Susilistiawati Ritonga, memilih bungkam dan enggan memberikan keterangan.

Lahan cabai kekeringan

Kekecewaan terhadap minimnya respons pemerintah daerah mendorong para petani untuk menyampaikan aspirasi langsung kepada Wakil Presiden Republik Indonesia, Gibran Rakabuming Raka. Mereka berharap, pemerintah pusat dapat hadir memberikan solusi nyata atas kondisi kekeringan yang semakin memperparah produktivitas pertanian.

“Kami petani Kabupaten Batu Bara meminta kepada Mas Wapres Gibran Rakabuming Raka untuk memberikan solusi atas kekeringan lahan pertanian petani, sehingga petani dapat bertani dan mencapai swasembada pangan tanpa dihantui kekeringan. Kami juga meminta kepada Pemkab Batu Bara untuk lebih serius di dalam pertanian agar kepercayaan petani akan hadirnya pemerintah itu ada,” jelas Soefriyanto, petani Kabupaten Batu Bara.

Saluran irigasi pertanian kering

Kondisi cuaca ekstrem dan kurangnya perhatian struktural terhadap sistem irigasi menjadi kombinasi mematikan bagi pertanian lokal. Krisis ini berpotensi memperburuk ketahanan pangan jika tidak ditangani secara cepat dan serius.

Banyak petani berharap adanya pengadaan fasilitas irigasi alternatif, bantuan pompa air, dan program pemberdayaan pertanian berkelanjutan yang melibatkan petani secara langsung.

Pemerintah daerah diharapkan membuka ruang komunikasi dengan petani, mendengar langsung keluhan mereka, serta merespons dengan kebijakan yang solutif dan bukan sekadar formalitas.

Dengan musim tanam yang terus berjalan, waktu menjadi musuh terbesar para petani. Ketika tanaman mulai mengering dan hasil panen terancam gagal, beban ekonomi dan sosial yang mereka hadapi semakin berat. Mereka tidak hanya kehilangan sumber penghasilan, tetapi juga kehilangan harapan terhadap peran negara dalam menjaga sektor pertanian.

Baca berita selengkapnya di: JurnalLugas.Com

Tombol Google News - JurnalLugas
Baca Juga  Forum Purnawirawan TNI Desak Pemakzulan Gibran Ini Syarat dan Prosedur Rumitnya

Pos terkait