Trump Restui Netanyahu Jajah Penuh Jalur Gaza

JurnalLugas.Com – Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dikabarkan telah mengambil keputusan strategis yang mengubah peta konflik di Timur Tengah. Menurut laporan media Israel, Senin malam (4/8/2025), Netanyahu memutuskan untuk menduduki Jalur Gaza sepenuhnya dan memperluas operasi militer, termasuk ke wilayah padat penduduk serta kamp pengungsi.

“Keputusan sudah bulat, kami akan menduduki Jalur Gaza sepenuhnya,” ujar seorang pejabat senior yang dekat dengan Netanyahu, Selasa (5/8/2025). Ia menegaskan operasi akan mencakup daerah yang diyakini menjadi lokasi penyanderaan. “Jika kepala staf IDF tidak setuju, ia harus mengundurkan diri,” tambahnya.

Bacaan Lainnya

Perubahan Besar Strategi Militer

Langkah ini menandai pergeseran signifikan dalam strategi Israel di Gaza. Sebelumnya, operasi militer lebih berfokus pada serangan terbatas di titik-titik tertentu. Kini, dengan istilah “pendudukan Jalur Gaza” yang digunakan Netanyahu, tujuan strategis pemerintah Israel tampaknya adalah menggempur Hamas secara menyeluruh.

Media publik KAN, mengutip menteri kabinet yang berbicara langsung dengan Netanyahu, menyebutkan bahwa keputusan ini diambil meski mendapat penolakan dari sejumlah lembaga keamanan Israel.

Baca Juga  Jonathan Burke AS Siapkan Sanksi Baru ke Rusia dan Iran

Dukungan dari Donald Trump

Presiden Amerika Serikat Donald Trump disebut memberikan “lampu hijau” kepada Netanyahu untuk menjalankan serangan militer skala penuh di Gaza. Sejumlah pejabat senior Israel mengonfirmasi bahwa dukungan AS memperkuat keyakinan Netanyahu untuk melaksanakan pendudukan penuh.

“Operasi ini mencakup wilayah-wilayah yang diyakini menjadi tempat sandera ditawan,” ujar salah satu sumber yang dekat dengan Netanyahu.

Batal ke Washington

Kepala Staf Umum Eyal Zamir membatalkan rencana kunjungan ke Washington. Pembatalan ini dilakukan setelah gagalnya upaya gencatan senjata dan meningkatnya tekanan internal untuk memperluas operasi militer.

Pada 29 Juli lalu, harian Haaretz melaporkan bahwa Netanyahu telah mempresentasikan rencana yang disetujui AS untuk menduduki kembali sebagian wilayah Gaza kepada kabinetnya.

Kesempatan yang Terbuang

Seorang pejabat keamanan Israel mengungkapkan kepada KAN bahwa pemerintah menolak kesepakatan hampir final untuk pembebasan sebagian sandera. “Kesenjangannya sebenarnya bisa dijembatani, tetapi Israel melewatkan kesempatan itu,” ujarnya.

Keputusan Netanyahu menolak kesepakatan tersebut memicu tudingan bahwa ia sengaja memperpanjang perang demi kepentingan politik pribadi, bukan demi keamanan negara.

Baca Juga  Rahasia TACO Kenapa Trump Sering Umumkan Tarif Tinggi Tapi Akhirnya Melunak?

Kritik Internasional dan Tuduhan Genosida

Sejak 7 Oktober 2023, tentara Israel telah melakukan serangan intensif di Gaza. Data menyebutkan hampir 61.000 warga Palestina tewas, sebagian besar perempuan dan anak-anak. Infrastruktur hancur, dan jutaan penduduk Gaza kini berada di ambang kelaparan.

November tahun lalu, Mahkamah Pidana Internasional (ICC) mengeluarkan surat perintah penangkapan untuk Netanyahu dan mantan Menteri Pertahanan Yoav Gallant atas dugaan kejahatan perang dan kejahatan terhadap kemanusiaan. Israel juga tengah menghadapi gugatan genosida di Mahkamah Internasional (ICJ) terkait operasi militernya di Gaza.

Meski kecaman internasional terus menguat, Netanyahu tetap menolak seruan gencatan senjata. Situasi ini menandai eskalasi baru yang berpotensi memperpanjang penderitaan warga sipil dan memperburuk krisis kemanusiaan di Gaza.

Baca berita selengkapnya di JurnalLugas.Com.

Tombol Google News - JurnalLugas

Pos terkait