Yair Golan & Avigdor Lieberman Peringatkan Netanyahu Penjajahan Gaza Bisa Jadi Perang Tanpa Akhir

JurnalLugas.Com – Dua tokoh oposisi terkemuka Israel melontarkan peringatan keras kepada Perdana Menteri Benjamin Netanyahu terkait rencana yang dilaporkan untuk menduduki kembali Jalur Gaza sepenuhnya. Mereka menilai langkah tersebut hanya akan menyeret Israel ke dalam “perang tanpa akhir” dan membahayakan nyawa para tawanan yang masih berada di wilayah konflik.

Ketua Partai Demokrat, Yair Golan, meminta Kepala Staf Angkatan Pertahanan Israel (IDF) Eyal Zamir untuk tidak mengundurkan diri di tengah tekanan politik.
“Jangan menyerah. Bertahanlah menghadapi tekanan politik yang ingin membawa kita ke perang tanpa ujung di Gaza,” tulis Golan dalam unggahan di platform X, Rabu (6/8/2025).

Bacaan Lainnya

Senada, Avigdor Lieberman, Ketua Partai Israel Beiteinu, menyebut Zamir sebagai “satu-satunya suara rasional di kabinet”. Dalam wawancara dengan media publik KAN, ia menuduh Netanyahu lebih memikirkan ambisi politik ketimbang keselamatan rakyat.
“Netanyahu tak peduli pada tawanan maupun tentara. Ia hanya ingin memperpanjang perang demi kekuasaannya,” ujar Lieberman.

Baca Juga  Israel Resmi Setujui 19 Permukiman Baru di Tepi Barat, Peace Now Zionis Penjajahan

Tekanan Politik dan Rencana Pendudukan Penuh

Laporan media menyebut Netanyahu, dengan dukungan Amerika Serikat, telah memutuskan mengupayakan pendudukan penuh Gaza. Targetnya mencakup wilayah yang diyakini menjadi lokasi penyanderaan. Sejumlah pejabat dekat Netanyahu bahkan mendesak Zamir mundur jika menolak rencana tersebut.

Namun, pada Minggu lalu, Zamir memperingatkan bahwa operasi darat skala besar justru dapat mengancam nyawa para tawanan Israel. Breaking the Silence, kelompok hak asasi manusia Israel, juga menilai langkah itu setara dengan “hukuman mati” bagi tawanan, tentara, dan ribuan warga sipil Gaza.

Kritik Terhadap Kepemimpinan Militer dan Politik

Kritik tidak hanya datang dari lingkaran politik. Ayelet Sidov Hacohen, pendiri gerakan Mothers at the Front, menyoroti ketimpangan pengorbanan di medan perang. Ia menyindir bahwa putra-putra menteri sayap kanan seperti Bezalel Smotrich dan Itamar Ben-Gvir justru tidak berada di garis depan pertempuran Gaza.
“Prajurit biasa yang dikorbankan, bukan keluarga elite politik,” ujarnya.

Netanyahu sendiri dijadwalkan menggelar rapat keamanan pada Selasa malam untuk membahas perluasan operasi militer, meskipun sejumlah lembaga keamanan disebut menolak opsi tersebut.

Baca Juga  Terkutuk Israel Tutup Akses Lembaga Kemanusiaan Gaza, MSF Terancam Dilarang saat Krisis Musim Dingin Mematikan

Perang yang Memakan Korban Besar

Sejak serangan 7 Oktober 2023, militer Israel terus menggempur Gaza. Data terbaru menunjukkan lebih dari 61.000 warga Palestina tewas, hampir setengahnya perempuan dan anak-anak. Infrastruktur hancur, krisis kemanusiaan memburuk, dan wilayah tersebut berada di ambang kelaparan.

Desakan internasional untuk gencatan senjata berulang kali diabaikan. Bahkan, pada November lalu, Mahkamah Pidana Internasional (ICC) mengeluarkan surat perintah penangkapan untuk Netanyahu dan mantan Menteri Pertahanan Yoav Gallant atas dugaan kejahatan perang dan kejahatan terhadap kemanusiaan di Gaza.
Selain itu, Israel kini tengah menghadapi gugatan genosida di Mahkamah Internasional (ICJ).

Selengkapnya berita terkini bisa dibaca di JurnalLugas.Com.

Tombol Google News - JurnalLugas

Pos terkait