JurnalLugas.Com – Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Sri Sultan Hamengku Buwono X, menyoroti kembali kasus keracunan makanan yang terjadi pada program Makan Bergizi Gratis (MBG). Hal itu ia sampaikan saat membuka acara Gerakan Pangan Murah di halaman Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Yogyakarta.
Sultan menilai, penyebab keracunan yang dialami sejumlah siswa kemungkinan besar berasal dari ketidaksiapan penyedia makanan dalam mengolah menu dengan jumlah besar.
Menurutnya, kerusakan makanan bisa terjadi karena cara memasak yang kurang tepat. Rentang waktu antara proses memasak hingga akhirnya disantap siswa dianggap terlalu panjang sehingga membuat kualitas hidangan menurun, terutama untuk menu sayuran yang cepat basi.
“Kalau proses memasaknya dilakukan dini hari, lalu baru dimakan pada pagi hingga siang hari, tentu sayuran tidak lagi segar dan berisiko menimbulkan masalah,” ucap Sultan.
Distribusi Perlu Disesuaikan
Sultan menegaskan, distribusi makanan harus sejalan dengan waktu pengolahan. Ia menilai, sayur sebaiknya dimasak mendekati waktu penyajian, sedangkan menu lauk atau gorengan bisa disiapkan lebih dahulu.
“Intinya, jangan sampai pola masak yang diterapkan sejak lama dibiarkan terus, karena selama itu tidak berubah, kasus serupa akan mudah terulang,” tambahnya.
Sebagai program yang digagas untuk mendukung gizi pelajar, Sultan berharap MBG benar-benar dikelola dengan standar ketat. Evaluasi menyeluruh dari penyedia makanan diharapkan bisa mengurangi risiko keracunan dan menjaga kepercayaan masyarakat terhadap program tersebut.
Baca berita selengkapnya di JurnalLugas.Com






